10 Alasan harus membaca buku fiksi

10 Alasan Membaca Buku Non Fiksi

Buku non fiksi biasanya digunakan untuk menyampaikan sebuah gagasan, pemikiran, ide, cerita yang kompleks, dan semuanya itu memang menarik untuk dibaca.

Bicara buku non fiksi tidak berarti membaca sesuatu yang tidak bercerita, kecuali  jika kita membahas Text book untuk pelajaran tentunya. Dalam daftar penjualan buku non fiksi best seller baik itu berdasarkan daftar New York Times Best Seller, Amazon, dan seterusnya, semua buku non fiksi di daftar itu bercerita.

Bagi para pembaca non fiksi di berbagai genre, ada banyak bahasan dan gagasan menarik yang bisa dibaca, contohnya baik penyuka sejarah, Hitler War karangan David Irving berargumen kalau Genosida Yahudi di Jerman terjadi tanpa sepengetahuan Hitlers dan dia menyodorkan bukti-bukti kuat sebagai pendukung argumennya dalam buku ini.

Kemudian dalam bidang ekonomi The Digital Economy karangan Don Tapscott mejelaskan tentang kebaikan dan keburukan yang dibawa ekonomi pada masa digital ini, lengkap dengan proyeksi apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam buku tentang pencarian makna kehidupan, The Geography of Bliss karangan Eric Weiner membahas apa makna dan bagaimana menyikapi kebahagiaan bagi sebuah bangsa, dia berjalan-jalan ke berbagai negara ke dunia untuk melihat apa kebahagiaan bagi bangsa-bangsa itu.

Ada banyak gagasan dan ide-ide yang menarik yang bisa kita dapatkan dari buku non fiksi.

Pelajari keahlian baru dengan membaca buku non fiksi

Salah satu buku yang menarik yang pernah saya baca adalah Linchpin karya Seth Godin dan Leader Eat Last karya Simon Sinek.

Linchpin membahas tentang komitmen buat orang yang ingin membawa perubahan, baik itu entrepreneur, karyawan, atau seniman.

Buku ini membuka wawasan saya tentang komitmen dan bagaimana bekerja lebih lama bisa jadi lebih efektif.

Sedangkan dalam buku Simon Sinek, Leader Eat Last yang dibahas adalah tentang bagaimana seharusnya pemimpin dalam sebuah organisasi bisa menjadi orang yang mengayomi.

Bukan saja pemimpin itu harus pandai dalam membuat strategi, tapi juga mampu untuk membuat budaya yang lebih baik serta menciptakan para pemimpin baru dalam organisasinya.

Buat kamu yang pekerja atau sedang menjalani bisnis, kedua buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Buku non fiksi memperluas pengetahuan dan pandanganmu

Ketika kita ingin memperdalam keahlian terkadang yang dibutuhkan bukan skill teknis lagi, namun pemahaman tentang apa yang kita lakukan.

Dalam buku Digital Economy karya Don Tapscott, dia memprediksi tentang keuntungan dan kerugian yang akan dibawa era digital ini, sekaligus imbas yang akan dirasakan oleh masyarakat dunia.

Dia memberikan contoh tentang akan banyaknya orang yang kehilangan lapangan kerja karena naiknya Artificial Intellegence dan Automasi, jadi para buruh pabrikan akan riskan terkena dampak ini.

Sebagai ekonom terkemuka Don Tapscott berargumen kalau dampak era digital ini tidak dihadapi maka akan banyak orang, perusahaan, dan negara yang akan terkena imbas buruk, karena itu dia mengusulkan untuk membuat rencana penanggulangan.

Di sisi lain buku The Power of Habit: What We Do Why We do in Life karangan Charless Duhigg membahas tentang habit/kebiasaan secara mendalam sampai kepada mengapa kebiasaan ini membentuk kita.

Buku ini selain bermanfaat untuk pribadi pembacanya, juga bermanfaat ketika membahas tentang bagaimana menciptakan kebiasaan dalam berorganisasi bisa membangun tim yang lebih kuat dan solid.

Buku The Power of Habit ini sangat bisa dimanfaatkan buat kamu yang sedang berada dalam organisasi bisnis atau nirlaba.

Buku ini menjanjikan tentang bagaimana kita bisa mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik dengan memaparkan proses kebiasaan dibentuk dan kemudian diubah.

Contoh lainnya adalah buku Distrupsi oleh Rhenald Khasali yang membahas keuntungan dan kerugian yang akan dibawa dalam dunia digital ini. Buku ini akan menambah wawasanmu dalam memandang dunia yang sedang kita jalani saat ini.

Buku non fiksi memperdalam pemahamanmu

Pemahaman itu ada tingkatannya, tergantung dari ketekunan belajar dan seringnya berdiskusi.

Hal lain yang bisa memperdalam pengetahuan adalah dengan membaca buku, buku non fiksi khususnya dibuat untuk menyampaikan suatu gagasan secara lengkap.

Kawan tidak lagi meraba sebuah ide atau gagasan dari namanya saja, tapi juga lengkap dengan argumen dan bukti pendukungnya. Inilah kenapa buku non fiksi sangat layak dibaca.

Ada banyak buku non fiksi di berbagai bidang yang membahas secara mendalam suatu gagasan, dan terkadang bisa mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh penguasa, baik dalam perusahaan atau negara.

Contohnya buku Economy of Inequality karangan ekonom terpandang Thomas Piketty tentang bagaimana kebijakan ekonomi di banyak negara malah memperbesar jurang kesenjangan antara si miskin dan si kaya.

Kalau kamu mau jadi aktivis yang memberdayakan masyarakat kamu wajib baca buku ini, kawan.

Begitu juga dengan berbagai bidang lainnya yang ingin kamu geluti, pasti ada buku non fiksi yang akan bisa memperdalam pemahamanmu di bidang tersebut.

Ketahui pandangan lain dari suatu hal dengan buku non fiksi

Banyak dari buku non fiksi yang jadi kontroversi karena bahasannya yang tidak biasa dan ada perbedaan dari pandangan umum dalam buku itu.

Contohnya dalam buku Hitler War karangan David Irving membahas tentang proses bagaimana genosida kamu Yahudi di Jerman bisa terjadi tanpa sepengetahuan Hitler.

Buku ini menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan karena potret Hitler jahat yang tidak punya nurani sudah dimantapkan di berbagai media, literasi, serta jurnal sejarah.

Hal yang menarik adalah argumen yang dipaparkan dan juga bukti-bukti yang kuat dari catatan para perwira militer Jerman membuat gagasan yang ditawarkan David Irving menjadi kuat, sehingga sulit dibantah.

Dari sisi lain ada Seth Godin dengan bukunya This is Marketing yang membahas tentang cara lain memandang sebuah bisnis.

Dalam bukunya Seth Godin berargumen tentang bagaimana Smallest Possible Audience (Pemira paling kecil yang mungkin) adalah awal dari sebuah bisnis yang innovatif, dia mencontohkan dengan pengalamannya dalam membuat perusahaan yang melayani jasa email di tahun 90-an ketika masih jarang perusahaan digital ini.

Membuat inovasi dan memiliki pandangan lain terhadap sesuatu menjadi penting ketika kamu menentukan arah atau sedang membuat sesuatu.

Contoh buku non fiksi menarik lain adalah Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karangan Mark Manson yang menjelaskan bahwa kamu akan lebih bahagia dengan bersikap bodo amat dalam menghadapi hal-hal tidak penting dalam hidupmu.

Contohnya feed dan linimasa Instagram temanmu tidak perlu dipikirkan.

Ini yang ditawarkan dalam buku-buku non fiksi, ada banyak pandangan menarik yang bisa memberimu insight dan pemahaman lain karena itu bacalah buku non fiksi ketika kamu penasaran dan ingin pemahaman yang beda tentang hal ini.

Menghilangkan Kebingungan diri

Dalam buku The Introvert Advantage karangan Marti Olsen Laney , Psy. D membahas tentang apa itu introvert dan ekstrovert.

Contoh kecil yang dibahas dalam buku ini adalah bagaimana kawan kelelahan ketika menghadapi banyak orang dan hanya nyaman di lingkaran kecil pertemanan, tidak ada yang aneh dengan hal ini. Kemungkinan besar kamu itu introvert.

Introvert berbeda dengan ekstrovert dalam mengisi energinya, sedangkan introvert lebih menyukai me time (waktu sendiri). Jadi ketika kawan kesulitan berbicara di depan umum pertama kali atau kurang nyaman saat berada di tempat baru, mungkin kawan itu introvert.

Dalam bidang lain yang lebih teknis misalnya kenapa tulisan kawan itu tidak pernah masuk di halaman pertama mesin pencari? Kemungkinan besar kawan tidak menggunakan teknik SEO ketika menulis.

Hal-hal  ini adalah ranahnya buku non fiksi.

Menata masa depan berawal dari pengetahuan

Dapatkan kehalian dengan membaca buku non fiksi
Buku non fiksi dan manfaatnya untuk keahlianmu

Masalah buat saya dimulai ketika lulus SMA, semua jurusan kuliah yang tersedia buat membingungkan karena tidak adanya keterangan apa yang dilakukan oleh lulusan atau apa saja nanti yang akan dilakukan dengan ijazah nanti.

Untungnya pas memilih asal-asalan saya pilih komunikasi, lumayan saya sukai untungnya.

Nah yang jadi masalah adalah bagaimana buat kawan yang saat ini masih memilih apakah masih membingungkan dan kurang informasi seperti jaman saya? Saya harap sih enggak.

Buat berjaga nih ada banyak bidang menarik yang bisa kalian tekuni sebenarnya, ditambah skill praktis itu bisa dipelajari di Youtube atau media sosial lainnya.

Dari mulai jadi ilustrator, videografer, fotografer, programmer, dan sebagainya. Tapi jika kawan mempelajari dari buku, bukan saja keahlian teknis yang bisa kamu kuasai, tetapi juga konsep dan pemahaman dasarnya.

Intinya lebih bisa membuatmu cepat berkembang.

Kalau buat kawan yang sudah memiliki keahlian maka bisa memperdalam pemahaman dan skillnya.

Buat masa depan impianmu dengan buku non fiksi

Sisi lain yang ditawarkan kepada pembacanya adalah pengetahuan tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Tentu saja kebanyakan buku non fiksi tidak membicarakan hal-hal besar seperti umat manusia, tapi dalam beberapa bidang yang spesifik seperti ekonomi, bisnis, atau pendidikan.

Hal terpenting yang saya dapatkan dalam buku non fiksi adalah untuk melihat insight atau wawasan dalam bidang yang saya tertarik untuk ikuti dan dalami, yaitu adalah ekonomi, perikalanan, sosial, dan tentang industri buku.

Contoh buku seperti ini ada dalam Distrupsi karangan Rhenald Kasali atau marketing 4.0 karangan Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya.

Kedua buku di atas membahas tentang wawasan apa saja yang bisa kamu ambil dari era digital ini bagi sebuah bisnis.

Di luar kedua buku itu ada juga buku non fiksi lain yang membahas tentang perubahan sosial yang akan terjadi.

Dari kalangan penulis dan penerbit Indonesia buku-buku seperti ini memang belum banyak beredar, mungkin karena penelitian dan riset yang dilakukan memang harus mendalam dan masih sedikit penulis kita yang memiliki kemampuan seperti itu.

Dapatkan sisi lain sejarah dari Buku Non Fiksi

Dalam buku sejarah Indonesia salah satu yang paling kontroversial adalah Api Sejarah karangan Ahmad Mansur Surya Negara, Islam digambarkan sudah ada di nusantara lebih dulu, dibandingkan ahli sejarah yang lain.

Bahkan lebih jauh lagi buku ini membahas apa yang dibawa Islam serta pengaruh budaya arab kepada kerajaan-kerajaan nusantara pada masa itu.

Di sisi lain ada juga buku karangan Lawrence dan Lorne BlairRing Of Fire’ yang dibuat untuk menceritakan kisah dibalik lensa tentang pembuatan film dokumenter dengan judul sama.

Buku ini menceritakan tentang ekspedisi mereka dan tim pembuat film di Indonesia. Bagaimana masyarakat di banyak daerah langsung menutup pintu mereka karena pada tahun 1960an masih banyak orang Indonesia yang membenci orang kulit putih.

Mereka juga salah satu dari negara barat yang pernah tinggal lama di Bali, tinggal selama beberapa lama dengan suku kanibal di Papua New Guniea, bercengkerama dengan Suku Toraja, sambil ditemani oleh Pelaut Bugis.

Para pelaut Bugis ini beberapa kali mencoba meninggalkan mereka ketika di Banda Neira, kemudian mereka juga dikawal oleh seorang perwira militer atau mungkin BIN.

Buku Ring of Fire menyuguhkan Indonesia yang berbeda, yang masih belum lama berubah dari masa kemerdekaan.

Dalam kedua buku ini ada sisi lain sejarah yang bisa kita nikmati di sini.

Jika kawan mencari buku lain tentang sejarah, Komunitas Bambu juga menyediakan buku terbitan dengan kualitas yang bagus.

Belajar membuat perubahan dari buku non fiksi

Kekuatan untuk membuat perubahan memang datang dari komitmen, tapi dimulai dari pemahaman yang berbeda untuk membuat hal itu bisa jadi kenyataan.

Ada banyak buku non fiksi yang dibuat agar menciptakan sebuah kesadaran, bahkan pergerakan.

Contoh paling jelas adalah Karl Marx Das Kapital yang mengkirtik dengan berat kaptialisme. Dari gagasan yang disodorkan buku inimenghasilkan teori pendukung sosialis lainny, bahkan menciptakan pergerakan di kalangan intelek dan bahkan para buruh.

Tentu saja ada banyak buku lain yang melawan gagasan Karl Marx dalam Das Kapital, salah satu yang paling mencolok adalah Wealth of Nations karangan Adam Smith, bapak ekonomi Amerika.

Dalam buku-buku non fiksi ini disuguhkan pandangan-pandangan, argumen, gagasan, bukti, dan lain-lain yang bisa membuatmu memandang sesuatu dengan lebih rinci atau berbeda.

Jika kamu menginginkan perubahan, ingin melakukan sebuah pergerakan, buku-buku non fiksi adalah salah satu bahan kunci untuk memasak semua itu.

Saya di sini tidak bicara tentang pergerakan politis atau lingkungan hidup saja, tapi juga mungkin bisa berguna untuk mengembangkan organisasi yang sedang kamu bangun atau kembangkan.

Apa pun bidang yang kamu tertarik untuk geluti atau sekedar penasaran saja, baca buku non fiksi di bidang-bidang itu.

Bersenang-senang dengan membaca buku non fiksi

Akhirnya setelah semua bahasan serius di atas tentang membaca buku non fiksi, hal paling penting adalah bersenang-senang.

Bersenang-senang menurut saya bukan saja tentang tertawa, tetapi juga menemukan hal baru, pandangan baru, bukti baru, imajinasi baru tentang masa depan dan apapun bidang yang membuatmu penasaran buku non fiksi tersedia untuk memuaskan rasa penasaranmu.

Ibarat sebuah petualangan yang dimulai dengan rasa penasaran tentang sesuatu, itulah kesenangan dalam membaca buku non fiksi.

Terima kasih sudah membaca kawan, sampai jumpa di artikel lainnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap