Gambar header bagaimana sulitnya untuk mencari pemirsa di era digital ini

4 Tantangan mendapatkan pemirsa di era digital dan solusinya –Banbumi

Di era digital ini kita mengenal dengan banyak kemudahan dan keringkasan untuk mendapatkan sesuatu, untuk membeli sebuah barang kamu tinggal klik, untuk dapet hiburan tinggal login ke media sosial favoritmu. Gabut? Tinggal buka Youtube saja.

Semuanya serba satu klik dari hpmu. Konten yang dibuat semakin mudah, baik itu tulisan artikel, video, foto, dan sebagainya. Sepertinya ini era digital sekarang menjadi era untuk kesempatan memiliki konten kan.

Namun semua kemudahan ini membawa kita pada satu masalah:

Jarak pemirsamu hanya satu klik dari distraksi

Mudahnya terdistraksi di era digital seperti saat ini. sumber : Pexels

Sekarang coba lihat apa yang kawan lakukan saat membaca artikel ini dari hp, kemudian sebuah pesan whatsapp atau notifikasi facebook muncul. Kemungkinan besar kamu akan klik notifikasi tersebut.

Inilah kesulitan dibalik kemudahan yang disediakan di era digital, semuanya hanya berjarak satu klik.

Ditambah merek dagang dan para konten kreator ini semua memperebutkan perhatianmu untuk konten mereka, baik yang dilakukan di web atau media sosial.

Semua tips tentang bagaimana membuat konten yang lebih baik, foto yang lebih baik, unggahan IG yang lebih baik, artikel yang lebih baik, dan seterusnya. Semuanya dibuat untuk menangkap perhatianmu.

Sebenarnya mirip bagaimana usher atau SPG (Sales Promotion Girl) rokok yang digunakan untuk menangkap perhatianmu. Mereka cantik dan wangi supaya kamu bersedia meluangkan waktumu untuk mendengarkan Sales Pitch-nya.

Lalu apa yang bisa kamu lakukan untuk agar pemirsamu tidak terdistraksi?

Sangat mudah, jadilah seseorang yang ditunggu mereka.

Terdengar mudah namun sulit dilakukan.

Kenapa orang mau menunggu karyamu, apakah itu karena karya itu dianggap mewakili rasa yang mereka rasakan? Atau mungkin kamu memberikan sebuah manfaat yang selama ini mereka cari?

Seperti saat kamu membaca komik atau manga favoritmu, meskipun ada notifikasi di hp, kemungkinan besar kamu terus saja meneruskan baca.

Jawabannya tidak mudah namun menurut Seth Godin kamu bisa terus konsisten dalam menyuguhkan karyamu, nilai yang bisa kau berikan untuk mereka.

Namun memberikan value (nilai) yang bagus sudah tidak cukup saat ini, kenapa? Alasannya mengantarkan kita pada tantangan  yang kedua:

Terlalu banyak noise dan konten di era digital ini

Sudah terlalu banyak artikel blog yang berdar saat ini. Sebagai contoh dalam artikel Neil Patel menyebutkan kalau pencarian untuk search term (istilah pencarian) ‘What is digital marketing” menunjukkan ada 11.300 pencarian bulanan secara global, namun ada 665.000 blog post yang menjawab pertanyaan ini. Sesak banget nih, kawan.

Bagaimana terlalu banyak blog post saat ini
Inilah kenapa blog post terlalu penuh ada 66.00 blog post yang mencoba menjawab pertanyaan ini. sumber dari artikel Neil Patel

Di Youtube ada 300 jam video yang diunggah per menit oleh 1,3 milyar penggunanya. sumber

Di Instagram ada lima ratus juta pengguna aktif yang mengunggah konten di Instagram, baik stories atau post tiap harinya. sumber

Angka-angka ini menunjukan banyak sekali unggahan per harinya dalam bentuk konten apapun itu. Kalau kau suka menulis cerita di Wattpad entah seberapa banyak penggunanya mengunggah cerita per harinya.

Lalu jika kau mencoba mengenalkan karyamu kepada khalayak ini apa dong yang mesti dilakukan?

Ya tetap buat konten tentang karyamu dong, pikirmu bagaimana lagi? Tapi tentu ada alasannya dong kenapa kamu harus tetap berusaha mengenalkan karyamu lewat konten.

Mari saya jelaskan, meskipun banyak sekali konten yang dibuat hari ini namun mereka semua tidak bernilai sama, tidak juga ditujukan untuk kelompok yang sama.

Dalam dunia blogging kawan mengenal istilah niche, dalam pemasaran ada yang namanya buyer persona, dan dalam pemasaran aplikasi ada yang namanya MVP (Minimum Viable Product).

Kenapa sih harus bahas ini segala?

Ini digunakan agar kawan bisa mendefinisikan pemirsamu dengan lebih baik. Dengan mendefinisikan pemirsamu lebih baik maka kamu akan lebih baik dalam menggapai pemirsa yang kau tuju.

Konsep ini berkaitan erat dengan Smallest Viable Audience dari Seth Godin dan 1000 True Fans-nya Kevin Kelly.

Kenapa gagasan mereka sangat signifikan sekarang? Ya karena dengan jumlah konten yang berdar sekarang, dan entah sudah seberapa jam video di Youtube semenjak kawan mulai baca tulisan saya ini, menjadi penting untuk sadar, kalau karya dan kontenmu bukan untuk setiap orang. Silakan baca di sini ya kawan:

Tentang smallest viable audience

Dan bagaimana 1000 True Fans bisa membuatmu hidup layak

Contohnya blog froteast ini, hanya ditujukan bagimu yang ingin sukses dengan karyanya. Saya sedang berusaha membantu memasarkan karyamu, kawan.

Apakah nilai yang saya suguhkan berarti buatmu, kawan? Kau yang tentukan jawabannya.

Dalam konsep Smallest Viable Audience karya atau konten yang kau buat dibuat dengan kualitas mengagumkan dan ditujukan kepada kelompok paling kecil tapi bisa menunjangmu (atau bisnismu). Dengan kata lain karyamu jadi signifikan untuk kelompok kecil ini.

Dalam konsep 1000 True Fans oleh Kevin Kelly menjelaskan bagaimana pentingnya untuk membuat brand ambassador (dikenal juga dengan nama brand advocate, brand champion, dst), yaitu orang-orang yang akan menunggumu dan ingin berinteraksi atau menikmati karyamu.

Untuk merekalah karyamu itu.

Namun masalahnya kamu tidak bisa menghasilkan brand advocate kalau kualitas yang kau suguhkan sekadar bagus saja, apalagi yang biasa dan ini membawa kepada masalah ketiga:

Kalau mudah, semua orang pasti akan melakukannya.

Di era digital banyak aplikasi dan platform yang menawarkan kemudahan.

Ada Picsart untuk memasukan elemen grafis kepada fotomu, Lightroom dan Snapseed yang membuatmu bisa edit foto di hp, ada Inshot untuk edit video, dan berbagai macam aplikasi lainnya.

Dulu ketika aplikasi di hp sebelum sekarang, seorang editor foto atau video bisa dibayar mahal untuk pekerjaannya, begitu juga dengan fotografer yang bisa dibayar jutaan rupiah untuk memotret sebuah brand.

hey saya edit foto ini hanya menggunakan Snapseed di hp Xiaomi jadul saja. Apalagi mereka yang lebih jago.

Namun dengan datangnya era digital membawa distrupsi kepada kedua industri kreatif ini. Sekarang banyak dari pekerjaan ini hanya jadi salah satu job desk staff social media. Kebutuhan untuk videografer, fotografer dan para editornya berkurang drastis.

Memang bukannya hilang, masih ada pemotretan yang dibayar ratusan juta, begitu juga dengan syuting untuk iklan atau sinetron yang bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Namun jumlah pekerjaan dengan bayaran fantastis ini juga tak sebanyak dulu.

Sekarang kawan bisa melihat terkadang hanya ada sebuah video dengan editan teks dan latar musik melankolis yang banyak beredar di Instagram. Itulah kekuatan yang diberikan aplikasi editing video di hp kepada orang-orang yang ingin membuat konten video.

Namun dengan kemudahan datang maka semua orang melakukannya. Apalagi jika tersiar kabar kalau kita memiliki pengikut yang besar di media sosial maka iklan bisa masuk kepadamu atau dengan jumlah pengunjung blog yang banyak kau bisa mendapatkan uang untuk itu.

Tentu ini membuat semua orang terdorong untuk membuat konten di platform yang mereka pilih.

Lalu dengan banyaknya konten ini, menemukan karyamu bagai mencari jarum di tumpukkan jerami. Sulit sekali.

Agar ditemukan dengan mudah di era seperti ini, maka kamu membutuhkan tiga hal:

Mendapatkan rekomendasi dari orang lain, jadi bagian dari sebuah komunitas, dan konsisten dalam menyuguhkan karyamu.

Rekomendasi dari orang lain merupakan bentuk word of mouth marketing dan di saat seperti banyaknya konten seperti ini, mendapatkan rekomendasi dari seorang yang kamu percayai dan hormati tentu akan cek karya tersebut.

Kalau saya pribadi sih begitu, kalau misal menemukan konten berkualitas yang cocok seperti konten desain dari The Futur di Youtube, saya biasa merekomendasikan ke teman.

Konsistensi itu memiliki manfaat kalau kawan bisa dipercaya untuk memberikan sesuatu dalam tengat waktu. Seperti yang dibicarakan artikel sebelumnya ini:

Bagaimana konsistensi bisa membuatmu dipercaya

Sedang jadi bagian dari komunitas adalah sesuatu yang harus. Kalau kawan perhatikan buku-buku sastra itu dipromosikan dari satu komunitas ke komunitas lain. Para komunitas yang berlainan itu saling mengenal satu sama lain atau setidaknya sebagian orang di komunitas-komunitas ini.

Contohnya misal Pecandu buku dan Mojok.

Di dalam buku Mendaki Tangga yang Salah karangan Eric Barker dijelaskan kalau jejaring (networking) memiliki arti penting dalam kesuksesan. Seberapa banyak orang yang kawan kenal di komunitas-komunitas?

Meskipun dengan banyaknya konten yang beredar di berbagai platform media sosial ini, namun mereka masih jadi pilihan terbaik dalam membangun pemirsa diluar blog dan podcast.

Masalahnya ada di bagaimana sebuah konten bisa jadi populer:

Infografis tentang 4 tantangan yang dihadapi untuk mendapatkan pemirsa di era digital : banyak distraksi, banyak noise, karena mudah semua orang membuat konten, dan hal populer tidak sesuai dengan apa yang karyamu tawarkan
Sebuah infografis dari froteast (kalau mau download tolong sertakan sumber dari froteast)

Masalah dengan konten populer di media sosial

Masalah paling tentang konten populer ada cukup banyak, kalau lihat di Twitter video yang selalu mendapatkan likes dan retweet adalah tentang penderitaan orang lain, entah mereka jatuh, terbakar, atau tertimpa sial karena kekonyolan yang mereka lakukan sendiri.

Sebanyak pengalaman saya dalam membuat konten untuk media sosial ada beberapa konten yang mendapatkan banyak performa bagus dan mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu konten yang menegaskan keyakinan pemirsa.

Maksudnya bagaimana itu?

Seperti konten Froteast di Instagram misalnya:

Contoh konten froteast di Instagram, untuk kamu yang mau follow silakan cari @froteast
Ini salah satu contoh konten yang dibuat untuk para pekerja yang suka mengeluhkan kerjaannya. Sumber

Maka konten ini akan meneguhkan kepercayaan pemirsa saya yang kelas pekerja dan sering mengeluh tentang pekerjaanya (apakah kawan termasuk? :-p). Begitu juga dengan konten bentuk lainnya entah itu visual, teks, atau still picture (foto dan grafis).

Di Indonesia konten-konten yang mendapatkan traksi untuk jadi cukup populer adalah galau (keresahan), percintaan, dan mistis.

Kawan masih ingat dengan KKN Di Desa Penari yang ramai di Twitter? Atau bagaimana NKCTHI mencoba menampung keresahanmu dengan karyanya.

Dalam buku karangan Jonah Berger, Contagious: Why Things Catch On dijelaskan 6 penyebab bagaimana sesuatu menjadi populer. Ada kebanggaan diri, mudah diingat, topik populer dan seterusnya. Ini yang menyebabkan suatu hal jadi populer.

Ya semua ini bagus, sampai pada saatnya kawan sadar bahwa yang popularitas tawarkan tidak sesuai dengan apa yang karyamu suguhkan.

Lalu bagaimana selanjutnya?

Sebenarnya suatu tren yang sedang populer berarti semua orang tahu tapi tidak semuanya memperhatikan.

Contohnya tren yang sedang populer untuk konten Instagram saat ini adalah NKCTHI dan Rintik Sedu, sampai-sampai konten di Instagram pun gayanya mengikuti mereka (termasuk froteast hehe).

Namun di luar tren populer ini masih banyak tren lain yang terjadi di komunitas berlainan, kamu bisa cek akun Photoshop atau nak_bali_ di Instagram untuk komunitas editor foto dan Digital Artist (DI), seperti juga tren desainer interior dan arsitektur yang berbeda.

Tren-tren yang terjadi di komunitas yang berlainan itu berbeda. Tergantung ketertarikan komunitas tersebut. Misalnya di dunia bisnis tren konten Instagram yang masih sampai sekarang adalah Infografis, di kalangan artis digital adalah tetap edit gambar.

Tak selalu tren yang populer akan terjadi di semua niche dan komunitas. Ini kesempatan untuk mengenalkan karyamu, pilih niche dan komunitas yang sesuai.

Sebuah tren yang berlangsung di komunitas sangat mungkin mencapai pemirsa yang lebih besar seperti yang dibahas dalam bukunya Geoffrey A Moore, Crossing the Chasm.

Bagaimana karyamu menyebar? Berikut proses sebuah produk yang sukses dalam menjadi bagian dari tren kalau berhasil menyebrangi chasm (jurang yang dalam)
Model dari Geoffrey A Moore ini menjelaskan bagaimana sebuah karya (atau produk) bisa jadi populer kalau berhasil menyebrangi Chasm, banyak produk atau karya yang hanya sukses diterima oleh Inovator dan Early Adopter

Model yang digunakan dalam buku ini adalah modifikasi model Penerimaan Inovasi dari Everett Roger bagaimana sebuah tren yang berasal dari sebuah komunitas bisa mencapai mayoritas.

Jalur kuning menunjukkan kalau kalau karyamu menyebar dari Inovator ke early adopter dan kalau berhasil menyebarangi chasm, maka karyamu akan jadi populer.

Ingat, pemasaran itu bukan tentang mempengaruhi semua orang tapi untuk mempengaruhi seseorang.

Jalin hubungan dengan komunitas yang kamu tuju itu agar karyamu dikenal.

Kesimpulan

Meskipun era digital membawa kemudahan dan keringkasan untuk mengenalkan karyamu namun hal itu juga menjadikannya tantangan tersendiri tapi bisa tetap mengenalkan karyamu dengan cara yang tepat.

Meskipun jarak pemirsamu hanya satu klik dari distraksi, kamu bisa menjadi seorang yang karyanya mereka tunggu agar mereka tak menuruti distraksi itu. Tawarkan sesuatu yang mereka nikmati.

Terlalu banyak noise dan konten di era digita ini karena itu buatlah sesuatu untuk smallest viable audience, kelompok terkecil tapi tetap bisa menunjang hidupmu.

Membuat konten itu mudah karena itu semua orang melakukannya, maka dari itu kawan harus membuat sesuatu yang luar biasa. Buat sesuatu yang orang lain tak mampu atau terpikir buat

Popularitas mungkin tak sesuai dengan apa yang karyamu tawarkan, untuk itu penting menemukan komunitas dimana karyamu bisa diterima dan diapresiasi. 

apakah kau berkarya agar bisa jadi Lucinta Luna, masa iya sih kawan!? Kalau keinginanmu seperti itu tampaknya berkarya bukan jalan yang tepat untuk membuat drama.

Ya sudah segitu saja artikel froteast kali ini.

Kalau ada saran dan kritik silakan isi di kolom komentar ya. Terimakasih.

8 thoughts on “4 Tantangan mendapatkan pemirsa di era digital dan solusinya –Banbumi”

    1. ya betul, wah mayan berat nih sambil kuliah. Tapi tetap berjuang mbak, kalau konsisten pasti ada hasil. Cuma memang manajemen energinya harus diatur supaya konsistensi berkarya tak terganggu

  1. saya sadar dengan hal ini. coba falshback saat boomingnya beberapa blogger yang fenomenal saat sedang ga banyak noise, misal Raditya Dika, Bena Kribo, Poconggg, karya mereka begitu cepat menyebar, hingga banyak yang menjadi fans nya.

    kalau sekarang lebih sulit tantangannya meskipun media promosi amat beragam. Memang yang terbaik itu membidik siapa permisa dengan membuat persona blo gkita.

    saya sedang mencoba ini mas, bikin belog niche keuangan, ditujukan untuk orang-orang muda yang mau nyobain investasi lewat review produk keuangan yang saya bahas.

    1. Halo mas Sabda makasih sudah mampir nih. Iya nih mas saya melihat blog mas itu sebenarnya itu udah oke dari niche yang dipilih. Untuk konten sudah sesuai. Apakah mas Sabda kepikiran untuk membuat sebuah kalkulator keuangan misalnya atau template?

      Kalau dari sisi SEO membuat infografis yang menarik, tempalate keuangan, atau tools di web mas. Itu sudah terbukti meningkatkan traffic dan konversi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap