5 alasan bisa sukses tanpa promosi di media sosial

5 Alasan Tanpa Promosi Media Sosial pun Karyamu Bisa Sukses –Banbumi

Sebagai mantan orang agensi periklanan digital artikel ini kayaknya gak akan disetujui nampaknya oleh temen kantor lama, hahaha. Sudahlah ini adalah tulisan bagimu para pembuat karya. Mari saya jelaskan di sini kenapa tanpa media sosial karyamu bisa sukses di pasaran.

Dalam pemasaran ada yang namanya disebut channel atau jalur distribusi. Jalur-jalur ini terbagi menurut media yang digunakan. Contohnya ada channel TV, radio, blog, media sosial, dan lain-lain.

Jalur-jalur ini digunakan para pemasar untuk mempromosikan produk. Masing-masing jalur ini punya cara tersendiri ini dalam mempromosikan. Misalnya akan berbeda sebuah promosi di radio dan di media sosial, karena perbedaan jenis konten dan platform.

Buat perusahaan dengan anggaran pemasaran yang besar mereka tentu bisa menciptakan hal seperti ini. Saya tahu salah satu merek (brand) ada yang mengeluarkan anggaran sebesar delapan miliar selama setahun untuk content marketing di video saja dan banyak merek yang anggarannya lebih besar.

Tapi bagaimana kalau kamu hanya seorang pembuat karya biasa, dengan anggaran terbatas atau bahkan tidak ada?

Dalam artikel lebih baik promosi atau bikin terus karyamu? Kamu tahu bahwa baik membuat dan mempromosikan karya sama-sama butuh energi dan kreativitas dan kawan memilikinya dengan terbatas.

Apalagi jika kawan sambil bekerja atau kuliah, energi dan waktu kalian jadi lebih sedikit. Totalitas menghabiskan waktu luang seringnya jadi satu-satunya pilihan.

Saya tahu anggaran terbatas akan membatasi gerakmu dalam berkarya, tapi malah hal ini akan memaksamu untuk jadi makin kreatif. Bagaimana kamu bisa kompromi dalam banyak hal tapi bukan standar kualitas karyamu.

Kembali ke pembahasan media sosial ini. Banyak artikel blog yang membahas promosi buku misalnya yang fokus pada media sosial dan kita sama-sama tahu itu menghabiskan energi.

Ketika kamu menulis dan harus mengurusi media sosial itu menghabiskan waktu, seringnya bahkan keduanya tak maksimal. Sebagai mantan mimin medsos saya pahamlah. Hanya orang yang punya menajemen waktu yang super dan energi yang luar biasa besar yang mampu melakukannya.

Masalahnya kawan bisa seperti ini tidak?

Kalau tidak mari bedah alternatifnya

Promosi itu makan waktu dan energi

Sebagai seorang pemasar saya tahu ada strategi tertentu bagaimana sesuatu atau sebuah karya bisa dipasarkan secara efektif.

Ada cara-cara tertentu bagaimana sebuah produk (karya) bisa diterima oleh sekelompok orang. Kemampuan memasarkan sesuatu perlu banyak belajar dan berlatih karena itu ada banyak profesi sebagai pemasar seperti saat ini.

Namun sebagai seorang yang menyukai menulis cerita. Saya paham kalau membuat strategi, mengeksekusi kampanye pemasaran membutuhkan energi yang tidak sedikit. Akhirnya saya hanya menulis ketika ada waktu luang.

Maaf ya karena ini pekerjaan saya blog ini tidak update seminggu sekali. Saya terlalu lelah untuk menulis.

Konten Instagram froteast masih saya yang mengerjakan dan itu membuat saya harus mengorbankan waktu untuk menulis cerita.

Di sisi lain ketika kawan memutuskan untuk mempelajari bagaiamana melakukan promosi menggunakan Facebook Ads contohnya, maka kawan akan menghabiskan waktu untuk mempelajari, sedikit budget untuk coba-coba (karena iklan di FB/IG murah banget sepuluh ribu perak minimal).

Belum lagi untuk membuat kontennya. Sedangkan di media sosial konten Instagram harus visual, sedangkan untuk twitter harus matang secara teks. Di Facebook kawan bisa memadukan keduanya, sedangkan untuk Youtube bentuknya harus video.

Agar jadi pembuat konten yang mumpuni anda perlu waktu belajar lagi, tentu saja semua ini pilihan. Pertanyaan dari saya satu saja, Apakah dengan membuat konten media sosial ini sudah akan membuatmu sukses memasarkan karyamu?

Jawabannya bisa ya dan tidak.

Tentu saja bisa entah karena kamu memang ahli atau sekedar beruntung.

Namun lihat angka-angka di Instagram, 60% dari seluruh akun pengguna Instagram memiliki jumlah follower di bawah 10.000. Kemungkinan besar kawan dan saya masuk ke kategori 60% ini.

Apalagi jika kontenmu membahas sesuatu yang baru atau tidak biasa, akan butuh waktu lama agar diterima oleh khalayak.

Contohnya Apple sampai saat ini tidak pernah  tweet apa pun, sedangkan akun Instagramnya hanya digunakan untuk repost foto hasil Iphone atau merek rokok yang sama sekali tidak membuat akun media sosial.

Di luar itu banyak umkm yang sebenarnya lebih bisa mendapatkan untung dari komunitas di kota dia berada. Biasanya karena media sosial demografis follower yang luas.

Saya pernah coba bantu marketing dari beberapa UMKM dan hasilnya selalu sama. Contohlah dia adalah sebuah bisnis UMKM di Bandung. Ketika membangun pengikut, hampir 40% dari luar kota dan pembelian kebanyakan masih dalam kota.

Itu dari sisi merk dagang (brand), dari sisi artis ada Banksy yang sudah berkarya dari 1990an namun dia baru mengunggah 1 Oktober 2013 di Instagram. Dia langsung mendapatkan 154.741 likes. Tentu saja dia sudah dikenal lama.

Dia dikenal mendunia pertama kali saat dia menggambar di Gaza dan mendapatkan perhatian media internasional. Kamu akan melongo melihat keberanian dan eksekusi gambarnya:

Karya Banksy yang membuat dibicarakan tanpa menggunakan media sosial
Di hotel inilah Banksy melukis di hotelnya. sumber
Lukan Banksy di Gaza tentang seorang gadis
Ini salah satu dari banyak lukisan Banksy di Gaza yang membuatnya mendapatkan perhatian media. Sumber
Salah satu lukisan Banksy di tembok pembatas Israel Gaza, Palestina
Sumber

Banyak penulis tidak melakukan marketing di media sosial

Maksudnya bukan tidak menggunakan media sosial namun mereka hanya menggunakannya untuk keperluan pribadi, sesekali posting buku ketika launching dan promosi. Terlalu tak terarah untuk bisa digolongkan kegiatan pemasaran.

Saya perhatikan kebanyakan penulis seperti Okky Madasari, Dee, atau Neil Gaiman menggunakan media sosial untuk berinteraksi saja dengan orang lain, baik itu pembaca, penulis lain, atau orang lain.

Ini dikarenakan tidak seperti para influencer media sosial mereka tidak membangun reputasinya menggunakan platform ini, mereka membangun reputasinya melalui karyanya.

Permainan mereka bukan media sosial, karya mereka bukan di sana kekuatannya.

Memang kamu bisa mendapatkan manfaat untuk memasarkan karyamu kalau kamu memiliki jumlah pengikut yang banyak di media sosial namun apakah kamu mampu melakukan itu?

Masalahnya yang namanya tren itu datang dan pergi, mungkin hari adalah masanya NKCTHI dan Rintik Sedu, lihat saja jumlah pengikut keduanya, fantastis! Namun berapa lama tren ini bertahan?

Singkatnya kalau tidak sesuai dengan apa yang karyamu suguhkan jangan ikuti. Masih banyak tren lain yang terjadi di komunitasmu.

Para penulis seperti Dee, Okky Madasari, dan Aan Mansyur menggunakan media sosial bisa berinterkasi warganet secara langsung. Terkadang membagikan artikel yang dia tulis atau melihat isu terbaru, begitu sepenglihatan saya.

Memang mereka membagikan bukunya di kala launching tapi di luar itu melakukan promosinya biasa saja kok. Tidak seperti kegiatan kampanye pemasar yang dipenuhi dengan give away atau gimmick, mereka hanya sesekali melakukannya.

Di sisi lain kalau kamu membuat sebuah perupaan, instalasi, atau karya yang ada wujud fisiknya. Kamu mungkin hanya perlu mengunggahnya di media sosial. Kalau bentuknya unik, maka tanpa feed Instagram yang bagus atau tweet yang lucu karyamu bisa dipandang menarik oleh banyak orang.

Ada bahaya psikis menggunakan media sosial

Selain makan waktu dan energi untuk membuat konten media sosial, ada juga bahayanya buat kamu yang suka berkarya. Yaitu kamu akan terpatok pada interaksi.

Maksudnya ketika kawan menggunakan Instagram, sedikit atau banyak jumlah likes dan komentar akan mempengaruhi kesenanganmu.

Semakin banyak likes semakin menyenangkan, memang ada penjelasan ilmiahnya kenapa jumlah likes bisa melepaskan dopamin dari tubuhmu.

Alasannya umpan balik (feedback) seperti likes adalah umpan balik positif, sehingga otakmu melepaskan hormon Dopamin sebagai respon dari hal tersebut. Itulah salah satu alasan juga kalau media sosial membuat ketagihan.

Kamu ketagihan kesenangan (Dopamin) yang didapat dari interaksi.

Kalau tertarik dengan artikelnya kamu bisa baca di sini.

Bahayanya adalah kamu bisa terperangkap dalam untuk sebatas mengejar interaksi saja. Artinya kamu ingin menjadi populer di platform tersebut.

Masalahnya di sini adalah apa sih yang karyamu bawa untuk orang-orang yang kamu tuju ini? Apakah sesuai atau tidak.

Semua keputusan memang kembali padamu, namun jika tidak cocok mungkin media sosial bukan jalur yang tepat untuk mempromosikan karyamu.

Media sosial bukan satu-satunya jalur promosi

Seperti yang sudah dijelaskan di media sosial bukan satu-satunya jalur untuk mempromosikan karyamu.

Dulu sewaktu saya masih rajin motret di sekitar 2007-2010 anak-anak klub fotografi kampus rajin melakukan pameran yang dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun.

Dulu sebelum Facebook atau Instagram populer pameran foto adalah satu-satunya cara untuk membuat klub fotografi dikenal.

Sampai saat ini pun masih banyak pameran fotografi yang dilakukan oleh berbagai klub fotografi atau organisasi fotografi. Salah satu yang paling rutin menggelar pameran adalah Kantor Berita Antara atau sekolah fotografinya.

Tiap minggu Gedung Galeri Fotografi Antara biasanya melakukan pameran fotografi, baik yang mereka lakukan sendiri atau klub fotografi lakukan di sana. Intinya di dunia fotografi kampus Galeri Fotografi Antara merupakan pilihan paling umum untuk melakukan pameran fotografi di Jakarta.

Kalau kamu bertanya kenapa Antara masih menyelenggarakan pameran, jawabannya adalah di dunia fotografi pameran merupakan hal yang terbaik untuk mendapatkan prestis.

Hal yang sama berlaku untuk bidang lainnya juga.

Misalnya di bidang eksterior atau interior.

Ketika kamu main ke Bandung coba kunjungi Jardine kafe, di sini kamu bisa lihat interiornya bagus.

Di Kalibata City kamu bisa kunjungi Sama Dengan untuk melihat interior tumbuhan yang apik.

Ketika kamu berkunjung ke sana pasti setidaknya mengambil satu atau dua foto karena desain interior dan meubel yang unik.

Di satu sisi kamu lebih mengenal tempat atau merek dagang kafe pemiliknya. Namun kamu tak mengenal siapa arsitek atau desainer interiornya.

Hal ini wajar tapi jika kamu tanya siapa yang mendesain tempat itu, kemungkinan besar para pemilik tempat itu akan memberitahu.

Secara tidak langsung arsitektur atau desainer interior itu namanya kamu dapatkan.

Ini yang disebut word of mouth marketing atau pemasaran mulut ke mulut.

mereka mungkin tidak melakukan pemasaran di media sosial namun dengan kekuatan pemasaran mulut ke mulut mereka tetap dapat melakukannya.

Contoh lain adalah taman kota atau taman nasional. Misalnya kamu ingin lihat Bukit Bintang atau Moko di Bandung.

Coba saya tanya tahu dari mana kawan tempat wisatamu?

Kebanyakan adalah karena banyak traveler atau anak Instagram yang aktif mencari spot foto baru untuk kontennya.

Seperti Gunung Pancar di Sentul tidak memiliki akun Instagram tapi tetap saja didatangi muda-mudi ibu kota tiap hari libur.

Kebanyakan orang mengetahui tempat itu karena unggahan warganet. Dari satu orang yang mengunggah kemudian menyebar dari satu orang kemudian ke orang lain. Kawan bisa anggap penyebaran ini sebagai bentuk pemasaran mulut ke mulut di platform digital.

Seringnya media sosial itu bukan tentang promosi

Salah satu hal yang banyak tidak orang sadari bukan dengan menjual barang untuk membangun audience.

Tak percaya coba saja, kita lihat bagaimana nanti.

Di media sosial adalah tempatnya untuk berhubungan dengan orang lain.

Kunci kesuksesan dalam membangun pemirsa di media sosial adalah tentang memberikan sebuah konten yang menarik untuk mereka.

Dengan konten kamu membangun hubungan dengan orang-orang yang kau tuju. Sedikit demi sedikit kamu mendapatkan kepercayaan mereka.

Inilah cara pemasaran hari ini.

Jadi seorang yang dipercaya oleh pemirsamu dengan selalu menepati janjimu untuk mereka.

Sama seperti bagaimana kamu menjalin hubungan dengan orang lain. Di media sosial juga sama seperti itu, yang berbeda hanya pada cara komunikasinya saja.

Konten adalah mata uang dalam bermedia sosial.

Pilih salah satu niche (segmen) lalu buatlah konten yang sesuai dengan apa yang ingin kamu janjikan kepada orang lain.

Sekali lagi saya harus tekankan kalau energi, waktu, dan anggaranmu terbatas fokuskan pada membuat karya.

Karya terbaik akan dibicarakan orang, akan jadi pembicaraan mereka, dan akan mereka rekomendasikan.

Kesimpulan

Melakukan promosi itu melelahkan, memakan waktu dan energi.

Banyak penulis yang tidak melakukan kampanye pemasaran di media sosial dan itu cukup, karyanya sudah bicara mewakili mereka.

Ada bahaya psikis menjadi ketagihan media sosial, karyamu bisa turun kualitasnya.

Media sosial bukam satu-satunya jalur promosi yang tersedia

Media sosial itu bukan hanya sekedar promosi tapi menjalin hubungan dengan orang lain.

Begitulah kawan kalau kamu menikmati tulisan ini dan dirasa bermanfaat silakan share ya.

10 thoughts on “5 Alasan Tanpa Promosi Media Sosial pun Karyamu Bisa Sukses –Banbumi”

    1. Kalau saya sih malah mendapatkan traffic banyak dari fb saja saat buang link.
      Iya sama-sama mas, makasih sudah mampir ya.

  1. Thank you for sharing.
    Sedikit banyak saya juga setuju dengan ini. Soalnya saya juga bergerak di bidang adv juga (walau lebih banyak berkutat di desain). Yang penting tuh kalo follower nya tepat sarasan ya pasti efektif.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap