CESPEN: Ditelanjangi Putri Duyung

Ketika aku pergi ke laut Selatan. Kebetulan di sisi pantai ada seorang ah.. atau seekor ya? Aku tak tahu kata ganti yang pantas untuk dia, baiklah kita lanjutkan.. aku bertemu sebiji putri duyung disana. Dia melamun sambil melihat laut tanpa ujung, pikirannya menerawang laksana awan yang tengah terbang. Mungkin dia sedang berpikir jorok karena dia bergumam, “bagaimana caranya ya buang air di WC?” Tenang.. tadi bercanda, itu hanya lamunanku tentangnya.
Baiklah, sebetulnya yang dia gumamkan itu adalah “mengapa dunia ini tidak adil?” Aku ingin sekali menjawab, “memang sejak kapan dunia itu adil?” Itu hanyalah persepsi dari satu sudut pandang yang umum, yang khusus, yang dibuktikan dan yang-yang lain beserta alasannya. Belum tentu adil untukmu akan adil untukku atau adil untuk banyak orang bisa adil untuk minoritas lain. Adil dan tidak adil itu akan setipis keju dalam roti yang disedekahkan oleh orang pelit! Dan wah.. penjelasan ini amat tidak penting, yang penting nikmat apa yang kamu dusatakan dari hidup. Ya?
Akhirnya aku mendekati putri duyung itu, lalu yang terucap bukan hal-hal rumit tadi, tapi “memangnya kenapa?”
Dia melihatku lalu menunduk dan menangis lebih keras, dia menjelaskan bahwa dia kasian melihatku. “Tak pernah aku melihat orang sejelek kamu! Bencana melihatmu ini bagai kiamat kubro.” SIALAN!
“Oke memang aku seperti itu hmm.. tak penting. Kenapa kamu bilang dunia ini tidak adil?” Aku bertanya sambil duduk di sebelahnya. Sebenarnya aku duduk agak jauh, karena takut dia kembali menangis histeris melihat kece tsunami di wajahku.
Dia berpikir sejenak, dan akhirnya dia mulai berkata. “Kamu tahu sejarah putri duyung?” Aku menggeleng. “Sebetulnya putri duyung itu adalah manusia laut, senang berenang dan main kucing-kucingan dengan ikan. Karena kucing suka ikan jadi manusia laut selalu menjadi kucing yang menangkap ikan, dan walaupun si ikan kena dia tetap tidak ingin menjadi kucing.” Tunggu sebentar.. sepertinya masalah ini akan lebih pelik dari politik. Aku kurang mencermati omongannya, ada yang bisa menjelaskan padaku?
Sang putri duyung menghela nafas panjang sebelum dia melanjutkan ceritanya. “Kami bosan selalu menjadi kucing! Akhirnya terjadilah pertengkaran hebat antara manusia laut dan ikan tentang tanggung jawab sebagai kucing. Dan bangsa ikan demi menjaga harga dirinya sebagai ikan rela ditangkap dan ditawan asal dirinya tetap menjadi ikan, bukan kucing! Dari sinilah awal mulanya. Karena sudah tidak bisa lagi bermain dengan ikan, kami pulang ke darat dan menyadari kami tidak memakai baju. Lalu kami jalan-jalan ke kota, karena kata orang di kota itu banyak butik dan distro yang menjual pakaian bagus. Kami membawa serta tawanan kami si ikan-ikan pemberontak itu.”
Aku masih mendengarkan dengan bingung! “Kami memasuki toko pertama dengan telanjang. Semua mata tertuju pada kami, ada yang memekik, menjerit, melongo, mata berbinar dan masih banyak lagi, kami merasa telanjang! Hiks.. hiks.. hiks..” Putri duyung itu menangis tersedu disebabkan hal yang sulit kumengerti, aku putus asa.
“Tapi kami tidak berhenti. Kami menghampiri orang yang menjaga toko itu dan menanyakan adakah baju yang bagus untuk kami. Dia menunjuk banyak baju. Lalu setelah kami memilih baju kamipun menyerahkan tawanan kami untuk barter dengan baju tersebut. Ya barangkali mereka ingin main kucing-kucingan dengan terus menjadi kucing bersama ikan tersebut. Namun… kamu tahu apa jawabannya? Mereka tidak menerima barter, dan mereka hanya menerima pembayaran lewat uang cash, kartu kredit atau kartu debit. Kami bingung! Setelah bertanya apa itu uang cash, kartu kredit dan kartu debit mereka malah menjelaskan hal-hal aneh dan tak masuk akal.”
Perputaran di kepalaku semakin menjadi, aku benar-benar pusing dengan cerita ini. “Kami akhirnya pergi dari toko itu, lalu mencari toko lain. Toko ke 2, ke 3, ke 4 terus ke toko-toko seputar dago, Sukajadi, Cihampelas dan semua toko menjawab hal yang hampir serupa. Kami frustasi! Tanpa berlama-lama kamipun kembali ke daerah lautan. Karena merasa ditelanjangi oleh perlakuan orang-orang kota dan hal ini disebabkan oleh ikan-ikan pemberontak itu. Kami akhirnya menelanjangi juga si ikan-ikan tersebut, dan sisik ikan itu kami pakai sebagai pakaian kami. Tahu orang berkata apa? Katanya kami adalah manusia ikan hiks.. hiks.. hiks.. padahal kan kami manusia laut! Ini benar-benar tidak adil!”
Aku lari dari sana, tak kudengarkan teriakan-teriakan dari putri duyung tersebut. Aku berlari sambil menangis, aku frustasi, aku putus asa. Aku merasa ditelanjangi! AAAHHHH… Tolong Tuhan. Aku benar-benar tak sanggup mendengar cerita yang memusingkan itu. Aku ingin tenggelam saja di laut dan menjadi kepiting. Cerita itu sungguh memuakkan..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap