CICAK VS BUAYA = HARIMAU MENANG!!!

Dewasa ini, masyarakat dikejutkan oleh berbagai pemberitaan media tentang pergulatan antara lembaga Kepolisian dan Kejaksaan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berbagai responspun berdatangan baik itu yang pro-Kepolisian dan Kejaksaan maupun pro-KPK.

Hal ini membuat sebagian masyarakat miris pada kondisi hukum di Indonesia. Terang saja dimulai dari kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain yang melibatkan mantan ketua umum KPK Antasari Azhar, kasus yang hingga kini masih disidangkan dengan bukti-bukti belum jelas. Ditambah dengan dugaan pemerasan oleh petinggi KPK yaitu Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah terhadap Anggoro widjojo yaitu pemilik PT.Masaro Radiokom.

Serta beberapa waktu lalu, diperdengarkan rekaman pembicaraan antara adik anggoro yaitu anggodo widjojo dengan beberapa pihak, perbincangan tersebut diduga terkait keterlibatan pihak kepolisian, kejaksaan serta melibatkan pula beberapa pejabat tinggi Negara.

Media sebagai sumber berita laku keras, masyarakat resah akan kebenaran lalu mereka menuntut, memprotes dan mendesak agar pemerintah tegas, pemerintah merespon dengan membentuk tim independen. Kepolisian dan Kejaksaan sibuk menyiapkan bukti-bukti penguat untuk menjerat kembali Bibit-Chandra serta membuktikan bahwa dirinya (lembaga Kepolisian-Kejaksaan) tidak terlibat dalam scenario kasus ini. KPK berjuang membuktikan bahwa kasus Bibit-Chandra adalah scenario dari pihak Kepolisian-Kejaksaan, lalu KPK pun berkeras untuk membuktikan Bibit-Chandra tidak terlibat kasus ini.

Ada apa dengan Indonesia??ada apa dengan hukum Negara ini??. Media massa yang beragampun berperan membentuk opini public,memberitakan ini dan itu serta meletakkan informasinya di dasar pemikiran masyarakat luas tentang kasus ini.

“Come on!! open mind!! what do you think, think the opposite”. Setelah kita berfikir dan berfikir, mencerna dan mencerna lalu menelaah dan menelaah. Hal ini hanya semu, abu-abu, serta ketidakjelasan dan ketidak jelasan. Tapi kita men-judgment, kalang-kabut dan emosi terhadap satu dan lainnya.

Siapa yang diuntungkan dalam hal ini??. Tentu saja jawabannya adalah actor intelektual yang menjadi dalang. Sementara para lembaga hukum sibuk membuktikan dan membenarkan, media massa menginformasikan berita-beritanya, lalu masyarakat resah, marah dan menuntut. Para actor intelektual yang menjadi dalang meminum kopi sambil menonton televisi santai. Lalu mereka merencanakan lagi rencana kejahatan yang akan menguntungkan mereka. Toh tidak ada yang tahu tentang mereka dan para aparatur hukum sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka ambil koper dan pergi untuk menguras kekayaan Negara, mempertebal kantong jajan mereka lalu melibatkan lagi orang lain sambil bersenang-senang.

Wallohu a’lam siapa yang berkata benar atau siapa yang salah dalam hal ini. Tapi kalau diibaratkan, mau cicak vs kecoa kek!!mau buaya vs komodo kek!!atau cicak vs buaya sekalipun. Hasilnya yang menang dalam nama besar sang raja hutan tetap saja harimau. Lalu siapa harimau??

 

05 November 2009

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap