Kenapa Pencerita Ulung Menggerakan kita?

Kenapa Cerita bisa menggerakan kita? Untuk hal baik dan hal buruk

Cerita dalam apa pun formatnya selalu digunakan untuk menyampaikan sesuatu, sebuah pesan, sebuah penghargaan, sebuah kenangan, atau sebuah pengingat.

Cerita sudah digunakan selama manusia bisa mengingat dan digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Gambar dan huruf di Piramid bisa dianggap sebagai sebuah cerita, mereka menyampaikan tentang pesan dan kejadian masa lalu.

Begitu juga dengan cerita tentang Aristoteles, invasi Mongols ke Eropa, semua disampaikan dengan format bercerita. Tujuannya bukan penyampaian detail yang akurat, tapi terkadang untuk menangkap perasaan waktu itu.

Orang Mongols ketika menginvasi eropa pertama kali digambarkan sebagai sebuah gerombolan penungggang kuda yang membawa malapetaka. Ditambah kabar dari para saudagar bahwa gerombolan Mongol membakar, menjarah, dan menjadikan populasi kota yang mereka datangi.

Secara umum mungkin mereka benar, tapi biasanya dalam cerita kabar angin, selalu saja ada yang dilebih-lebihkan.

Di Indonesia sendiri cerita sebagai media dakwah digunakan oleh Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri untuk menyebarkan nilai-nilai islam melalui pertunjukkan wayang.

Dikenal dengan tema Petualangan yang bercerita tentang Kalimo Sodo, yang disebut-sebut sebagai jimat paling sakti yang bisa menyelamatkan manusia.

Kalimo Sodo sendiri merpresentasikan tentang dua kalimat syahadat yang menjadi syarat wajib bagi mereka yang memeluk Islam.

Ini adalah penggunaan cerita dalam tema penyebaran agama.

Saat ini penggunaan cerita untuk menyampaikan sebuah pesan sudah makin berkembang dari pada dulu.

Banyak banget konten viral yang menceritakan kejadian dari satu ke yang lain, di sini cerita jadi sebuah panduan dalam memahami kisah tersebut.

Bercerita untuk kesadaran tentang sesuatu

Kalau bicara sebuah cerita yang viral, memang biasanya berisi hal-hal lucu yang memang ngocok perut. Namun di era media sosial ini banyak juga konten viral yang bercerita tentang kejadian yang perlu orang lain tahu.

Contohnya klinik sekaligus penitipan hewan yang memperlakukan piaraan orang lain secara biadab atau cerita bos Ammar TV (sebuah channel di Youtube) yang meninggalkan istri dan anak-anaknya demi isteri kedua.

Dalam Cerita Ammar TV sang istri membuat cerita sendiri tanpa niat untuk membuat postingan cerita itu viral tapi warganet memiliki penciuman yang tajam.

Mereka segera mengendus cerita itu, bersimpati pada istri pertama, dan secara cepat unsubscribe dari channel Ammar TV, sehingguna subscribernya hanya tinggal satu juta.

Cerita ini hebuh di semua media sosial, sehingga yang semua orang tahu.

Meskipun tidak berniat untuk membuat cerita itu viral, tapi sang istri pertama bercerita dengan kronologis yang membuat orang lain iba, meskipun dia mungkin menulis seperti itu mencurahkan isi hatinya.

Ini yang membuat orang tergerak, minimal untuk share. Kemungkinan besar para wanita yang paling tergerak untuk share hal itu.

Salah satu syarat agar suatu konten menjadi viral di media sosial adalah dengan menggugah emosi dan konten itu berhasil.

Ini adalah salah satu bentuk adaptasi komunikasi kita sebagai kelompok, ketika ada salah satu dari kita yang dianggap terancam, maka anggota kelompok lain berbondong-bondong membantunya.

Viralitas hanya salah satu ciri untuk hal ini.

baga juga: Soal pencurian konten dan mentalitas para pembuat konten Indonesia

Di sisi lain ada juga kampanye kita bisa yang mendapatkan uang ratusan juta, contohnya seperti gempa di Palu atau bencana di Manokwari.

Orang Indonesia memiliki semangat Philanthropy yang tinggi.

Dan semua itu lebih mudah digerakkan dengan bercerita. Lihat saja ajakkan untuk bergabung dalam sebuah gerakan, infografis hanya dijadikan pelengkap informasi, bukan bagian utama.

Bahaya yang dibawa dari Pencerita Ulung

Cerita yang baik pasti disampaikan oleh pencerita yang ulung, tidak hanya mereka yang bercerita secara verbal tapi juga secara tulisan dan visual.

Para pencerita ulung ini memiliki kemampuan untuk menangkap perhatian kita, menuntun cara pikir kita, membuat kita berimajinasi, dan menggugah emosi kita.

Ini adalah ciri-ciri pencerita ulung, mereka paham bagaimana caranya untuk mmembuat kita menikmati cerita tersebut.

Kalau dalam buku cerita fiksi, pasti akan jadi cerita yang menarik dan layak untuk dinikmati.

Baca juga: 10 alasan untuk membaca buku non fiksi

Jajaran buku non fiksi yang jadi best seller, atau podcast tentang keilmuan, dan berbagai macam format cerita lainnya jadi populer karena para pencerita ulung ini memang ahli membuat kita menikmatinya.

Namun ketika para pencerita ulung ini digunakan untuk kampanye politik, banyak dari mereka yang tidak bertanggung jawab sehingga tidak jarang membuat konflik.

Tapi tidak dengan kampanye pemasaran? Untuk pemasaran atau karya jurnalistik bisa digugat dengan mekanisme hukum tertentu, seperti UU Konsumen dan UU Pers.

Biasanya konflik dalam kampanye politik disebabkan karena si politikus mendukung salah satu kelompok untuk mendapatkan dukungannya, sedangkan politikus yang lain juga mendukung kelompok yang berbeda.

Ketika hanya tersisa dua kelompok seprti pilpres kemarin, maka bentrokan idealisme, bahkan fisik rentan terjadi karena pergerakan masa selalu ada dalam kampanye politik.

Sampai saat ini kaum Cebong dan Kadrun masih sibuk dengan saling menghina di media sosial. Kenapa kebencian digunakan sebagai alat kampanye untuk menyerang lawan, sehingga ada perpecahan dalam bangsa.

Ini tidak saja terjadi di Indonesia tapi juga di Amerika.

Dan semua ini dimulai dengan para pencerita ulung yang menggugah emosi para pendukung masing-masing politikus.

Baca juga: ketika buku togel merajai pencarian buku di Google Indonesia

Emosi kemarahan yang mereka cari, itu bisa dilihat dari posting politis yang viral. Jika kawan lihat videonya maka rasa marah dan kebencian mengisi video tersebut.

Lebih jauh lagi ini mengafirmasi hal-hal yang dirasakan para pendukung, mereka membuat kemarahan dan kebencian itu jadi hal yang mengeuatkan kekelompokannya, namun sekaligus menghilangkan tenggang rasa (simpati dan empati) kepada orang yang berada di luar kelompoknya.

Inilah kemampuan para pencerita ulung ketika mereka membuat cerita untuk menguatkan kekelompokkan sekaligus menyulut amarah dan kebencian, sehingga kita mengalami perpecahan sekarang.

Dalam hal ini kita harus berhati-hati.

Bagaimana ternyata sebuah kejadian bisa menjadi viral, namun sebenarnya itu merupakan kabar bohong.

Hal ini pun pernah terjadi, kita begitu cepat mengetikan jari demi memuaskan hawa nafsu.

Pencerita ulung memang akan selalu diperlukan, minimal untuk membuat kita mengetahui hal-hal yang menarik.

Namun ketika yang diceritakan adalah hal-hal yang benar-benar terjadi, berhati-hatilah, kawan, karena mungkin saja cerita itu dibuat dari kebohongan.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa share ya, kawan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap