Apa sih yang dihasilkan dari konsitensi untuk terus berkarya? simak selengkapnya di artikel

Konsistensi Berkarya, Apa Manfaatnya untukmu?

Kayaknya sudah banyak banget omongan tentang konsistensi berkarya ini, apa saja manfaatnya, bagaimana melakukannya dan sudah banyak pula yang lain.

Sebenarnya saya pribadi lebih suka menulis cerita dibanding dengan tulisan untuk blog misalnya tapi kalau tidak ada yang posting apa-apa di blog ini, nantinya froteast kurang dikenal nih oleh pengguna google hehehe.

Nah, kembali lagi soal konsistensi dalam berkarya.

Sudah banyak petuah dari seniman senior dari berbagai bidang yang berkata kalau jumlah karya yang kamu hasilkan berbanding lurus dengan audience atau pembacamu.

Contoh paling terkenal saat ini adalah Gary Vee dari dunia entrepreneur yang bilang kalau ingin sukses maka kamu harus bisa membuat 100 konten setiap hari.

Menurut Gary Vee kamu harus konsisten membuat 100 konten sehari agar sukses di digital
Buat Gary Vee kamu harus bisa membuat 100 konten per hari agar sukses di dunia digital

Tentunya hal ini akan membuat audience atau pemirsamu jadi semakin banyak.

Dari dunia fotografi ada Henri Cartier-Bresson yang bilang kalau 10.000 foto pertamamu adalah yang paling jelek dan dia memotret di era film, dimana kamu harus beli roll film, memotret, dan agar melihat hasilnya kamu harus mencuci dan mencetaknya.

Henri Cartier-Bresson adalah salah satu fotografer top dunia yang paling terkenal
Menurut Henri Cartier-Bresson 10.000 foto pertamamu adalah yang paling buruk

Dari dunia penulis kamu punya Stephen King yang sudah bertahun-tahun menerapkan disiplin untuk menulis 100 halaman cerita perharinya.

Ketika Stephen King membaca dua jam sehari dia mampu menulis 2000 kata perharinya
Mungkin sampai hari ini Stephen King adalah salah satu penulis horor paling ikonik, juga paling konsisten

Mungkin cerita Stephen King yang kita kenal, yang sudah terbit hanyalah ujung dari gunung es, isitlah inggrisnya tip of the Iceberg.

Orang seperti Chris Do dari The Futur berargumen  kalau ingin pemirsamu tumbuh di Instagram, maka kamu harus membuat 500 konten Instagram agar kamu tahu bagaimana hal itu dilakukan.

Chris Do adalah seorang desainer yang saat ini fokus untuk mengajarin desain dan sisi bisnis dari desain
Kalau disebut dia adalah salah satu tokoh pendidikan di dunia desain. Cek videonya soal konsistensi di Youtube

Banyak para ahli yang terkenal dari bidang lainnya yang mungkin sudah menelurkan ribuan karya, namun hanya sebagian kecil yang mereka rilis ke publik.

Kualitas karya yang dibuat berbanding lurus dengan berapa lama si empunya untuk konsisten.

Ibarat olahraga atau latihan, semakin sering kamu melakukannya maka semakin mahir juga kamu.

Beberapa orang seperti Seth Godin menulis untuk blognya setiap hari, hari libur dan hari kerja.

Seth Godin adalah legenda di dunia marketing, dia dikenal dengan strategi marketingnya yang tidak biasa, serta konsistensinya menulis blog setiap hari
Seth Godin adalah seorang tokoh marketing yang legendaris, konsistensinya dalam menulis blog juga juara

Bahkan Bruce Lee bilang dia lebih takut dengan orang yang melatih satu tendangan sepuluh ribu kali, daripada orang yang melatih sepuluh ribu jenis tendangan tapi hanya sekali masing-masingnya.

Menurut Bruce Lee orang yang melatih satu macam tendangan 10.000 kali sangat berbahaya. Begtu juga dengan konsistensi
Bagi Bruce Lee orang yang melatih satu macam tendangan 10.000 kali lebih berbahaya daripada orang yang melatih 10.000 jenis tendangan tapi hanya sekali.

Begitu banyak orang yang berkata kalau jumlah konten yang dihasilkan berbanding lurus dengan kualitasnya, semakin lama semakin baik.

Tentu dengan catatan kalau setiap konten atau karya jenis lain yang dibuat dengan menyuguhkan kualitas terbaik sesuai dengan kemampuan.

baca Juga : Menumbuhkan pemirsa atau audience dari kelompok paling kecil

Pengalaman pribadi ngomongin efek konsisten dalam berkarya

Saya sendiri sudah mencoba konten di Instagram untuk @froteast dan jumlahnya sudah lima ratus lebih sedikit per hari ini ehehe. Belum lagi dari konten yang saya buat untuk klien, mungkin sudah lebih dari 2000 konten.

Khusus untuk konten froteast saya coba suguhkan dengan kualitas terbaik yang saya bisa, sesuai dengan kemampuan saya tentunya.

Hal lain yang saya alami adalah meningkatnya pemahaman saya tentang konten seperti apa audience (pemirsa) froteast nikmati di Instagram.

Saya makin paham dengan konten seperti apa yang mereka inginkan, konten mana yang paling dinikmati oleh kalian.

Tentu saja saya ucapkan terima kasih sudah untuk kawan-kawan yang sudah mengikuti froteast di Instagram dan blog ini.

Untuk Twitter sabar ya, manajemen waktu saya masih acak-acakkan hehe.

Balik lagi ke soal konsistensi dalam berkarya.

Kan, sudah jelas kalau semakin banyak kamu membuat karya, maka kamu akan semakin ahli dalam atau jago dalam karya tersebut tapi….

Ada hal yang harus kamu pahami dulu, kalau tiap karya yang kamu buat harus disuguhkan dengan kualitas terbaik.

Lama kelamaan keahlianmu dalam membuat karya itu akan terasah.

Di sisi lain kamu juga harus sadar bahwa karya apa yang akan kamu buat, ceritakah? Tulisan Blog? Fotografi? Video? Interior? Atau yang lainnya?

Totalitas berkarya dalam sebuah bidang akan menentukan apa nantinya keahlianmu karena itu ketika kamu mengerjakan sesuatu asal jadi atau asal beres saja, kamu malah dapet capek aja ternyata.

Intinya mau berkarya sendiri atau dalam pekerjaan, tak usah tanggung-tanggung, pokoknya berikan hasil terbaik untuk setiap karya yang kamu buat.

Sayangnya banyak kawan yang takut untuk total memberikan hasil terbaik dalam pekerjaan nih, khususnya.

Baca juga : Kamu bisa hidup layak dengan hanya 1000 true fans

Urusan kritik dan trolling

Sebenarnya kritikan itu wajar saja adanya, apalagi kalau kamu mengeluarkan karya di ruang publik. Termasuk di pameran, web, blog, atau media sosial.

Kritikan itu tentu saja bisa diterima atau tidak, tergantung kamu sebagai pembuat karya.

Kawan harus ingat bahwa yang diperdalam di sini adalah karyamu, daya penciptaanmu. Jadi tidak semua kritikan harus didengar atau dituruti, cari saja mana yang menurutmu sreg di hati.

Jangan takut dengan kritikan pedas, toh pada akhirnya belum tentu juga kalau kamu menuruti kritikan itu akan membuat jadi seorang pembuat karya yang lebih baik.

Memang dalam belajar membuat sesuatu, kamu akan mendapatkan banyak kegagalan, tapi fokus belajar untuk membuat hasil terbaik, selalu usahakan seperti itu.

Kritikan itu bagian dari proses belajar, tidak semua kritikan atau saran bermanfaat untukmu. Terima atau tinggalkan saja. Toh yang akan menjalani kehidupan dengan berkarya itu kamu kan.

Sisi lebih gelap dari reaksi akan karyamu adalah trolling, dimana orang mungkin akan mencaci karyamu, bukan karena mereka tidak suka, tapi memang seperti itu kesenangan mereka.

Kalau bertemu dengan komentar atau ucapan orang seperti itu jangan diambil hati, sambil lalu saja, kawan.

Sebuah karya yang baik biasanya memiliki sesuatu untuk diceritakan, fokus saja dalam bercerita atau menyampaikan sesuatu dalam karyamu.

Buat tiap karya jadi sesuatu yang berarti, dibuat dengan kualitas terbaik, setiap karyanya. Dan buatlah ribuan karya, niscaya dirimu akan bertransformasi menjadi sesuatu yang baru.

Rintangan buat konsisten itu ada banyak, tapi lakukan saja karena mungkin hidupmu bukan saja berasal dari situ.

6 thoughts on “Konsistensi Berkarya, Apa Manfaatnya untukmu?”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap