Bagaimana menentukan nilai karya melalui sudut pandang pemasaran

Mari nilai karya-mu dengan sudut pandang pemasar –Banbumi

Dalam dunia pemasaran apa yang kami tawarkan kepadamu adalah sebuah janji tentang suatu hal, apapun itu yang kami tawarkan. Nilai produk yang ditawarkan adalah sebuah reputasi yang bisa kamu andalkan.

Contohnya saya datang kepadamu menjual asuransi jiwa, artinya saya menjual janji tentang ketenangan pikiran dari resiko yang mungkin kawan akan alami, ini janji saya sebagai penjual asuransi.

Ketika saya menawarkan sebuah merek mobil kepadamu, yang saya tawarkan kepadamu tidak sekedar kenyamanan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, namun saya juga menjual kemudahan servis, minim masalah, dan harga jual kembali yang lumayan.

Masing-masing merek ini memiliki reputasi tersendiri, proses membangun reputasi ini disebut sebagai branding dan bagian dari marketing.

Namun semua ini tentu akan sia-sia jika janji yang ditawarkan tidak sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan. Misalnya kau dijanjikan mobil yang minim masalah, namun pas jalan kelima kalinya malah mogok. dalam istilah pemasaran hal ini disebut under delivery.

Dan hal ini pun berlaku dalam karya yang kau buat, kawan.

Ketika kawan membaca The Fantastic Beast and Where To Find Them karangan J.K. Rowling, biasanya kawan sudah memiliki ekspektasi bagaimana serunya cerita ini. Dalam dunia pemasaran J.K. Rowling tidak dilihat sekadar individu saja melainkan menjadi sebuah brand (merek) dan dia menjanjikan tentang  kualitas ceritanya.

Saat ini banyak kursus atau tulisan tentang personal branding dan apa yang bisa kamu dapatkan dari sini, biasanya adalah bagaimana caranya membangun reputasi.

Untuk menilai sebuah karya lewat sudut pandang pemasar dan bisnis ada yang dinamakan dengan value (nilai) yang ditawarkan karya tersebut. Dan inilah yang kawan harus tahu tentang nilai sebuah karya.

Setiap karya (atau produk) memiliki nilai yang ditawarkan

Tergantung untuk siapa karyamu itu dibuat, apakah untuk bisnis, untuk seni, untuk kegiatan amal, atau untuk hobi saja?

Masing-masing karya memiliki nilai yang berharga untuk kalangan tertentu. Kawan tak bisa menilai seorang penulis SEO untuk artikel web dan sastrawan, keduanya memiliki nilai jual yang berbeda.

Kalau begitu gimana kita mau tahu nilai karya kita? Karena nilai yang ditawarkan tiap karya berbeda mari bahas satu persatu lewat bidang dimana karya itu dipublikasikan.

Nilai karya dalam dunia bisnis

Dalam dunia bisnis karyamu dilihat dari beberapa faktor yang akan memberikan manfaat kepada bisnis itu.

Misalnya seorang ilustrator yang berkolaborasi dengan sebuah perusahaan pakaian, gambarnya digunakan di salah satu jaket perusahaan ini.

Dari sisi bisnis ini akan menaikan awareness (kesadaran) dan brand value merek tersebut. Ini juga bisa anda dapati di antara kolaborasi perusahaan lain, misalnya Ramayan berkolaborasi dengan The Popo.

Nilai karya dari Kaos hasil kolaborasi antara seniman The Popo dan Ramayana
Ini merupakan salah satu bentuk kampanye pemsaran merek dengan seniman. Sumber

Ada juga G Shock yang berkolaborasi dengan Gorillaz. Merek jam tangan ini membuat seri khusus Gorilaz:

Nilai karya Salah satu seri jam tangan G Shock terbaru hasil dari kolaborasi dengan Gorillaz
Ini salah satu seri G Shock kolaboriasi dengan Gorillaz. Sumber.

Ini bertujuan sebagai salah satu bentuk kampanye pemasaran agar merek ini tetap segar dan selalu muncul kebaruan.

Namun alasan terbesar kenapa kolaborasi ini bisa terjadi karena memang Gorillaz dan The Popo memiliki Brand Identity (identitas merek) yang kuat dan memiliki pangsa pasar tersendiri (mereka memiliki fanbase yang kuat).

Jadi selain keuntungan produk terbaru yang unik, ada juga keuntungan dari sisi kesadaran merek kepada fan base seniman yang berkolaborasi dengan merek dagang tersebut.

Dalam dunia bisnis selalu ada perhitungan untung rugi karena itu nilai yang karya atau identitasmu tawarkan haruslah berupa keuntungan dalam dunia bisnis.

Di dunia bisnis seperti iklan penjualan sebuah jasa pembuatan video iklan  yang memiliki nilai transaksi ratusan juta rupiah dilakukan karena sebuah keuntungan tertentu.

Misalnya iklan Ramayana edisi Idul Fitri yang dibuat oleh Dimas Jay. Masih ingat kerja lembur bagai kuda?

Iklan ramayan ini berhasil menciptakan percakapan di media sosial, salah satunya karena ada ibu yang di dalam rice cooker.

Kenapa Dimas Jay bisa dibayar ratusan juta karena menggunakan iklan itu, jawabannya sederhana, merek ramayana akan banyak diomongkan orang di platform digital. Dalam istilah pemasaran digital hal ini disebut dengan conversation.

Conversation kalau diartikan berarti percakapan, hal ini mengacu seberapa banyak merek tersebut dibicarakan oleh warganet di sebuah platform media sosial.

Iklan Ramayana yang dibuat oleh Dimas Jay itu memang menjadi viral karena banyak sekali yang diomongkan.

Kenapa Ramayana bisa percaya kepada Dimas Jay untuk membuatkan iklan tersebut. Jawabannya karena reputasi yang sudah terkenal membuat iklan lucu yang dibicarakan oleh warganet dan terbukti kan di iklan Ramayan viral di semua platform media sosial.

Jika kamu adalah seorang profesional dalam berkarya apa yang kamu tawarkan kepada sebuah bisnis?

Inilah hal yang harus diulik dari nilai yang karya tersebut tawarkan. Kalau dengan bisnis selain perhitungan untung rugi maka kamu harus memiliki sebuah reputasi. Kalau belum punya, ya kawan harus bangun reputasi tersebut.

Misal jika kamu adalah seorang penulis cerita kamu bisa menawarkan bagaimana karya tulismu itu bisa memperkuat Brand story telling dan citra merek tersebut.

Seorang fotografer yang identitas mereknya sudah mapan seperti Darwis Triadi dipilih karena merek itu ingin dicitrakan dalam visi fotografi Darwis yang elegan dan mewah.

Di sisi lain ada juga merek yang menawarkan kemewahan, biasanya di industri mode, perhiasan, dan mobil mewah. Mereka ini menawarkan status untuk para pembelinya.

Contohnya adalah gambaran di kepalamu saatu seseorang membeli mobil Audi:

“mana mungkin orang yang membeli Audi itu adalah seorang pegawai biasa, minimal si pembeli adalah seorang pengusahan mapan atau bagian dari top manajemen sebuah perusahaan besar. Dia pasti orang berada.”

Produk (karya) mewah ini menjadi siginifikan buat mereka yang menginginkan status (atau ingin terlihat memiliki status).

Status ini merupakan nilai yang ditawarkan sebuah produk (karya). Nah kalau karyamu menawarkan nilai apa? Janji apa?

Apakah janji itu tentang menaikkan penjualan? Kesadaran merek? Atau tentang bagaimana citra merek tersebut bisa meningkat?

Ketika menawarkan karyamu kepada sebuah bisnis kamu harus bisa menghitung apa yang bisa kau kontribusikan pada merek itu.

Menurut Seth Godin menciptakan nilai (value) di dunia pemasaran bisa kau mulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Untuk siapa karyamu ini?
  • Mindset, filosofis hidup, dan situasi seperti apa yang dihadapi?
  • Apakah karyamu dibeli oleh orang atau organisasi?
  • Apakah karyamu jadi solusi sebuah masalah atau jadi solusi lebih baik atas masalah lama?
  • Apakah sedikit yang membeli dengan harga mahal atau banyak yang membeli karya ini dan membayar murah?
  • Apakah mereka sadar kalau pembeli karyamu memiliki masalah dan kamu bisa menyelesaikannya?

Masih ada beberapa pertanyaan lagi namun akan saya singkat seperti ini dulu. Untuk pertanyaan di atas maka jawaban dari froteast adalah:

  • Blog ini untuk mereka yang ingin sukses dengan karyanya
  • Mindset adalah karyanya itu berkualitas, filosofis hidupnya untuk berkarya, dan mereka ingin sukses secara finansial dari karyanya
  • Blog ini dibaca oleh orang-orang
  • Blog ini jadi solusi bagaimana si pembuat karya bisa memasarkan karyanya
  • Blog ini jadi sumber kerangka berpikir untuk memasarkan karya
  • Program premium froteast (Banbumi, masih dalam tahap pengembangan) akan berharga murah dan dibeli banyak orang
  • Banyak pembuat karya yang belum sadar kalau mereka memiliki masalah pemasaran

Begitu yang akan saya coba buat dengan blog ini, kawan. Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan spesifik (dan harus spesifik) maka kamu akan mendapatkan kerangka berpikir pemasaran yang sesuai dengan nilai yang karyamu tawarkan.

Ingat nilai itu berbeda untuk tiap kelompok manusia. Harga karyamu mungkin tinggi bagi sebuah kelompok tapi malah sama sekali tak berarti untuk kelompok yang lain.

Lalu bagaimana dengan para seniman dan penulis cerita? Karya mereka tidak menyelesaikan sebuah masalah kan?

Jawabannya membawa kita ke poin selanjutnya, yaitu:

Reputasi dan konsistensi

Sebuah restoran membangun reputasinya dengan menyuguhkan kualitas masakkan terbaik
Sebuah restoran membangun reputasinya melalui kualitas masakkan terbaik. Photo by Kaboompics .com from Pexels

Kita sudah lihat apa nilai sebuah karya akan berimbas pada bisnis, namun bagaimana dengan pembaca buku dan penikmat lukisan?

Jawabannya ada pada reputasi yang sudah dia bangun. Contohnya Eka Kurniawan misalnya, anda tidak akan berharap novel yang ditulis eka akan seperti mirip seperti tulisan bergaya Leila S. Chudori.

Mereka berdua adalah penulis yang berbeda dan kita sebetulnya senang disuguhi cerita yang khas Eka Kurniawan mau pun Leila S. Chudori, meskipun mungkin ada kawan yang lebih memilih membaca Eka daripada Leila dan begitu juga sebaliknya.

Saya tak berharap Jonthan Stroud akan menulis cerita fantasi seperti J.K. Rowling dan begitu juga sebaliknya. Saya menikmati karya dari kedua penulis ini dengan gayanya masing-masing.

Para seniman pun sama, siapa yang berharap kalau lukisan Picasso akan jadi realistis? Kalau realitstis bukan karya Picasso namanya!

Ini membawa kita pada reputasi seorang pembuat karya dan bagaimana itu dibangun.

Untuk membangun sebuah reputasi kawan perlu konsistensi dan menempatkan karya yang orang mudah temukan. Contohnya kawan suka menulis cerita, maka tulisan di Wattpad atau Storial.

Namun tentu saja ada tantangannya untuk menemukan pemirsa yang tepat yaitu noise di platorm digital ini.

Kawan bisa baca tentang tantangan menemukan pemirsa di sini.

Kemudian tantangan kedua adalah konsistensi yang selalu dibutuhkan dan ini penting.

Kawan bisa baca apa manfaat konsistensi dalam berkarya di sini.

Reputasi yang dibangun ini merupakan bagian dari apa yang dinamakan Branding atau personal branding. Bedanya personal branding adalah sebuah upaya membangun reputasi untuk individu, bukan lembaga.

Branding itu akan lebih mudah jika kawan hanya membuat satu jenis karya saja. Kalau suka menulis cerita horror ya sudah tulis cerita horor saja, jangan tiba-tiba menulis cerita romantis.

Memang berkarya itu bebas namun yang menjadi masalah adalah orang lebih mudah mengasosiasikan sesuatu dengan satu hal saja. Mari kita lihat rumusan berikut:

(sebuah merek atau pembuat karya)….. itu…….(hal paling dikenal dari karya itu)

Oke, sekarang kita coba terapkan:

J.K. Rowling itu penulis cerita fantasi

Apple itu desainnya simpel

Stephen King itu penulis cerita Horor

Bakpia itu khas Jogja

Mak erot itu memperbesar kelamin

Ini yang dimaksud oleh David Aaker dalam bukunya Build The Strong Brand, Orang lebih mudah measosiasikan merek atau seseorang dengan satu hal yang paling kuat atau paling dikenal.

Kalau pada suatu saat Mak Erot membuat baso tanpa iming-iming memakan baso itu memperbesar kelamin apakah akan laku? Menurut ilmu branding kemungkinan besar tidak.

Jadi kalau kawan ingin mulai membangun reputasi buatlah satu macam karya saja, entah itu menulis horor, entah itu membuat combro raksasa, dan seterusya. Ingat, selalu konsisten!

Reputasi ini bukan terbatas pada seniman atau penulis saja, namun juga kepada kamu sebagai bisnis yang membuat produk atau jasa.

Kalau kamu menjual sambal misalnya, karena satu atau dua hal sambel yang biasa kau buat sambel tak seenak atau sepedas biasanya, pasti keesokan harinya pembeli berkurang. Kalau hal ini sering terjadi pasti lama-lama kamu akan ditinggalkan pembeli.

Ini membawa kita pada sub poin selanjutnya:

Memiliki standar kualitas itu perlu.

Kualitas-yang-dicari-orang-berbeda-beda
Konsistensi dalam menyuguhkan kualitas itu penting, baik buatmu yang membuat karya, menjual produk dan juga jasa. Photo by Anni Roenkae from Pexels

Ada macam-macam jenis kualitas dan rata-rata subjektif, artinya tergantung orang yang menggunakan atau menikmati karya tersebut. Namun masing-masing pengguna ini memiliki standar bagi karya atau produk yang mereka gunakan.

Salah satu alasan kenapa reputasi bisa terbentuk karena si pembuat karya atau produk ini konsisten menyuguhkan kualitas mereka, ada standar yang terus dituruti dan menepati ekspektasi (pengharapan) kawan.

Misalnya Nike tidak akan menjadi sebuah merek besar jika sepatu mereka sudah rusak ketika digunakan lari 10 kali misalnya, begitu juga dengan Apple tidak akan menjadi besar kalau User Interface (antarmuka pengguna) sangat ribet.

Kalau kawan suka memasak dan misalnya membuat combro sebesar piring misalnya, lalu karena alasan kenaikan bahan baku yang berimbas pada cost production maka kawan membuat combro biasa saja. Maka pembelimu akan kabur, karena kalau membuat combro yang biasa saja kawan tidak lagi menyuguhkan kualitas yang sama.

Kalau kawan menurunkan kualitas maka kau tidak lagi menjadi spesial. Dengan menurunkan tingkat kualitas sekarang kawan bersaing dengan banyak orang. Banyak orang memilih kualitas yang biasa karena hal itu tidak melelahkan, membuat sesuatu berkualitas tinggi itu lebih menguras energi dan waktu.

Kalau kualitasmu turun kau jadi membuat karya yang biasa saja, maka kawan tidak lagi menjadi signifikan buat orang yang kawan tuju dan mereka tidak lagi memiliki alasan untuk membeli karyamu.

Tentu saja ada juga produk yang sudah murah bagus lagi atau seperti warteg sudah murah banyak lagi. Namun dengan menyuguhkan kualitas tinggi dengan konsisten maka karyamu memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk disebarkan.

Lalu kenapa produk murah dan enak seperti ini ada?

Harga dan nilai sebuah karya

Tidak semua karya bernilai sama dan tidak berharga sama. Setidaknya untuk kelompok berbeda. Contohnya kira-kira seperti ini, kau menjual makanan dengan mendirikan warteg tentu akan dilirik oleh buruh, namun restoran mewah tentu tidak akan dilirik oleh mereka.

Membuat sesuatu hanya untuk kelompok tertentu ini adalah penting. Dalam dunia bisnis kekhususan seperti ini memang juga ditentukan oleh kompetisi.

Untuk kamu yang profesional, entah itu sebagai ilustrator, penulis, desainer, fotografer, dan sebagainya paling buruk adalah ditentukan oleh harga.

Kalau misal pengalamanmu memotret itu sudah 5 tahun tentu saja kamu akan ogah akan mendapatkan tawaran pekerjaan di bawa 7 juta misalnya. Hal yang sama juga terjadi untuk profesi lainnya. Pasti kawan juga akan mendapatkan tawaran kerja dengan harga tak masuk akal.

Dalam dunia bisnis tidak ada kepastian yang ada adalah reputasi yang menimbulkan kepercayaan, serta mereka yang dipilih untuk suatu proyek atau kampanye biasanya memberikan nilai yang melebihi harga.

Kalau kawan bisa melihat nilai apa yang melebihi harga yang kau tawarkan itu, produk, atau jasamu maka kamu akan lebih mudah menghitung nilai yang kau berikan pada pembeli atau klien.

Ingat dalam menciptakan value (nilai) bagi karyamu kamu harus paham untuk siapa karyamu itu.

Kesimpulan

Karya, produk, dan jasa memiliki nilai yang ditawarkan.

Nilai karya bagi sebuah bisnis akan ditentukan oleh keuntungan yang didapatkan bisnis tersebut.

Reputasi perlu dibangun agar karyamu lebih mudah diterima oleh orang yang kau tawarkan.

Konsistensi dalam menyuguhkan kualitas akan menjaga pembelimu tetap datang dan menyebarkannya.

Selalu berusaha untuk menyuguhkan nilai daripada harga yang kau tawarkan.

Terima kasih sudah membaca kawan, dan terus tambah nilai karyamu.

Referensi:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap