Mengapa Bima Terlewat?

Hamparan pasir putih dan laut biru bersanding dengan serakan sampah yang tersebar di sepanjang pesisir pantai dusun Pasir Putih, Bajo Pulo. Dengan sampah plastik sebanyak ini beberapa teman kami di tim ENJ 2017 SEKBER KPA membuat lelucon, ‘jika pengelola sampah di pulau Jawa datang ke pulau ini, mereka akan mendadak kaya!’.

Hal ini bukan semata-mata bentuk ejekan terhadap sampah yang masih dianggap sesuatu yang wajar di Bajo Pulo, namun juga bagaimana solusi dari perkara sampah ini masih mengambang di permukaan, seperti; Setelah dikumpulkan, apa yang mesti dilakukan terhadap sampah-sampah ini? Di mana sampah ini di buang? Bagaimana cara memanfaatkan dan mengelolanya?

Observasi yang tim lakukan sejak hari pertama memang sudah mengarah pada soal sampah yang dibiarkan tersebut, karena sampah adalah salah satu dari masalah yang menghambat keindahan pulau dan pantai di Bajo Pulo ini terekspose, padahal tempat ini memiliki potensi pariwisata yang menarik.

Bajo Pulo terletak di sebelah Timur pelabuhan Sape, sekitar 15 menit menggunakan perahu motor. Desa Bajo Pulo memiliki tiga dusun, yaitu: Dusun Bajo Barat, Dusun Bajo Tengah dan Dusun Pasir Putih. Tim kami sendiri menempati rumah Pak Burhan (Bendahara Desa, pen) yang berada di tengah-tengah antara Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah serta berseberangan langsung dengan kantor Desa Bajo Pulo.

Rumah yang kami tempati memiliki pemandangan yang menarik. Jika kita melihat ke arah barat daya atau tepatnya di belakang rumah, kita sudah dapat melihat permukaan laut yang berjarak kira-kira hanya 20 meter saja, dengan sudut kemiringan -55° dan sangat terjal di 3 meter terakhir. Rumah itu memiliki titik koordinat:  08° 57′ 55″ LS   119° 03′ 47″ BT.

Kontras dengan air laut yang sangat mudah didapat hingga ibaratnya kita dapat memperoleh langsung dengan menggelindingkan diri ke laut. Pulau ini tak memiliki sumber air tawar hingga penduduknya harus membeli air tawar yang dikirim dari Sape. Harga satu tandon 1000 liter air yang biasa dipakai satu rumah tangga sama dengan seratus ribu rupiah, dan diangkut dengan kapal seminggu sekali ke Bajo Pulo.

Kepala Desa Bajo Pulo, Bambang H. Ahmad pun membenarkan bahwa salah satu masalah di Bajo Pulo adalah air tawar yang sulit didapat, slang yang ada dan tersambung dari Sape tidak pernah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan penduduk di Bajo Pulo. Kami pernah bertanya, apa di pulau ini tidak ada titik air untuk pemasangan pompa? Menurut Pak Burhan, “Titik air ada, tapi untuk mengebor memerlukan alat dan mata bor yang mahal”, karena kontur pulau yang sebagian besarnya berupa batuan keras. Bahkan pohon sulit untuk tumbuh di pulau ini, hanya beberapa varietas tanaman saja yang dapat kita jumpai di Bajo Pulo, hingga kambing yang merupakan hewan ternak (di Bima dan sekitarnya, hewan ternak dibiarkan berkeliaran, pen) pemakan tumbuhan sering terlihat memakan kertas, dus atau kain. “Jika kalian tidak sengaja menjatuhkan uang, kalian akan beradu cepat dengan kambing untuk mengambilnya.” Ujar Pak Bambang sambil tertawa.

“Kenapa dulu moyang kami pindah ke sini! Air susah, kayu susah, listrik juga susah, haha.” Humor sarkasme salah satu penduduk Bajo Pulo itu mungkin bisa jadi merupakan keresahan yang juga dirasakan oleh masyarakat di Bajo Pulo. Dusun Bajo Barat dan Dusun Bajo Tengah hanya bisa menikmati listrik dari mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan 06.00 WITA, namun aliran listrik dari mesin diesel ini tidak sampai ke dusun Pasir Putih. Kendala jarak menjadi penyebab hal itu.

Dusun Pasir Putih memang seperti desa yang terpisah dengan Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah. Kita harus menggunakan perahu motor sekitar 5 – 10 menit untuk sampai di Dusun Pasir Putih. Meski hanya memiliki satu dusun, area di Dusun Pasir Putih ini lebih luas serta memiliki jenis tanaman yang beragam dari dua dusun lainnya.

Ketika kami melihat ke Dusun Pasir Putih, di sana sedianya ada beberapa keluarga yang mampu untuk memenuhi kebutuhan listriknya, mengeluarkan sendiri biaya dengan membeli alat konversi tenaga surya. Namun, sebagian penduduk yang rumah tangganya tidak memiliki sumber tenaga listrik berharap di dusun mereka mendapat aliran listrik paling tidak seperti di Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah.

Setelah observasi di hari pertama, esoknya sebagian dari tim berkunjung sekaligus izin pelaksanaan kegiatan ke kantor Bupati Bima. Kami disambut oleh asisten satu yang menjelaskan bahwa Bupati dan Wakil Bupati tak bisa menemui kami karena mereka baru pulang dari acara di Mataram. Dan pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pak Qurban (Asisten 1 Bupati Bima, pen). “Bagaimana, apa kalian aman?”

Kami memulai perbincangan mengenai program bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan yang akan tim jalankan di Bajo Pulo, lalu tentang evaluasi yang kami simpulkan setelah pengamatan yang dilakukan pada hari sebelumnya. Saat kami berkata bahwa Bajo Pulo adalah tempat yang bagus, Pak Qurban mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik. “Mengapa Bima terlewat dari destinasi wisata? Banyak wisatawan tidak memperhitungkan Bima sebagai tujuan ekskursi mereka. Ini masalah keamanan!”

Asisten 1 Bupati Bima, H. M. Qurban SH. bercerita bahwa orang Bima kerap menyelesaikan masalah dengan perkelahian bahkan perang antar wilayah. Dan mengapa pada awal perjumpaan kami, dia bertanya apakah tim dalam keadaan baik dan aman, itu karena di Pelabuhan Bima tempat kami turun dari K.M AWU sering ada laporan masalah keamanan, dan notabene hal ini juga menjadi penghambat majunya pariwisata di Bima.

Jika kita cermati wilayah-wilayah seperti Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Komodo, Labuhan Bajo di Flores, belum lagi bila terus ke Timur seumpama ke Atambua bahkan ke Raja Ampat di Papua. Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang unik dan menarik terlebih laut serta pantainya. Namun di banyak lokasi, sarana dan prasarana belum memadai (kecuali objek wisata itu sudah sangat terkenal dan mendunia, pen), terutama di Bima dan lebih khusus lagi Bajo Pulo tempat kami melihat hal tersebut lebih dekat.

Sebagai tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 yang memiliki slogan ‘Bersama Membangun Negeri’, berat rasanya mewujudkan hal tersebut walau sedikit saja. Ditambah jadwal transportasi laut yang tidak ada setiap waktu hingga kami harus tetap menyesuaikan agenda kapal yang membawa pulang dan program kerja agar berjalan baik. Kami merasa banyak kekurangan di sana-sini. Akan tetapi, kami telah berusaha menyampaikan kepada masyarakat di Bajo Pulo tentang apa yang mesti kami sampaikan, pun demikian kepada pemerintah daerah atau pada pemerintah pusat lewat laporan-laporan kami atas berbagai soal di Bajo Pulo. Dan saat itu, terpikir ada hal lain juga yang perlu kami lakukan, yaitu, mencoba sendiri wisata jalur laut.

Ketika kita melihat lajur, setelah Pulau Jawa deretan pulau itu adalah Bali, Lombok, Sumbawa (termasuk Kota Bima dan Bajo Pulo, pulau yang merupakan Kecamatan Sape, pen), Pulau Komodo, lalu Labuhan Bajo yang berada di kawasan Kepulauan Flores. Namun tak seperti transportasi laut ke Bali, lombok, Komodo dan Labuhan Bajo. Angkutan laut ke atau dari Bima sangat terbatas, jeda satu kapal mesin yang melintas pelabuhan Bima bisa berminggu-minggu sedangkan jumlahnya sangat sedikit. Belum lagi ketika kita bandingkan kapal dengan rute Lombok langsung ke Labuhan Bajo dan dari sana kapal feri yang mengangkut ke Pulau Komodo sangatlah intens, ini barangkali yang menyebabkan Bima serta pelabuhan-pelabuhannya terasa terlewatkan. Sebetulnya kita tak bisa serta-merta menyalahkan keadaan tersebut, seperti yang telah dibahas sebelumnya, banyak hal yang mesti dibenahi terlebih dulu karena bagaimanapun tingkat permintaan penumpang wisata baik itu domestik atau luar negeri mempengaruhi rute dan intensitas kapal. Tapi, sebelum menghendaki berbagai hal mengenai fasilitas dan sebagainya, kami merasa perlu untuk mengetahui serta memperoleh sendiri gambaran jalur dari Pelabuhan Sape ke Pulau Komodo, akhirnya kami menguji dengan menggunakan kapal motor.

Nelayan di Bajo Pulo berkata bahwa saat mereka berlayar, dalam menentukan arah mereka hanya mengandalkan gugusan pulau dan bintang sebagai petunjuk. Ini terbukti saat perjalanan kami. Sore itu kami telah berkemas untuk perjalanan rute wisata ke Pulau Komodo. Selepas magrib kami langsung menuju dermaga Bajo Pulo untuk menaiki perahu Pak Aji Jamal yang sudah menunggu. Kapal motor itu hanya dua kali lebih besar dari pada kapal yang biasa membawa kami menyeberang dari pelabuhan Sape ke Bajo Pulo atau ke Dusun Pasir Putih, barangkali perbedaan lainnya hanya terletak dari kelengkapan kapal yang memiliki perahu sampan (kapasitas maksimal 4 orang, pen) untuk keadaan darurat dan dek tambahan tempat menyimpan barang. Satu lagi perbedaan mencolok terletak di kemudi kapal, jika perahu motor biasa menggunakan setang atau batang besi yang tersambung dengan mesin di belakang perahu, kali ini kemudi kapalnya seperti setir mobil, jadi rasanya dibanding disebut kapal motor, perahu seperti ini lebih cocok dipanggil kapal mobil.

“Tolong matikan senternya!” Kapten kapal Pak Aji Jamal berteriak dari balik kemudi. Begitu diperhatikan lebih seksama, memang cahaya dari lampu senter malah mempengaruhi jarak pandang untuk melihat gugusan pulau dan pulau tujuan kami di perairan Selat Sape itu. Meski telah malam, alam memiliki pendar cahayanya sendiri.

Malam itu kami berlayar selama 3 jam, semakin lama gelombang laut semakin kuat. Lalu, kami bersandar di teluk sebuah pulau yang tenang dan beristirahat (ada juga yang masak atau memancing dan malah dapat ular laut, pen). Menurut ABK kapal, sebetulnya jarak tempuh dari Pelabuhan Sape sampai ke Pulau Komodo itu sekitar 6 jam saja, namun kami dan kru kapal sepakat untuk tidak mengambil resiko berlayar di malam hari dengan gelombang yang mulai besar, menurut mereka Selat Sape adalah salah satu perairan dengan arus yang ganas. Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan dengan lancar ke Pulau Komodo dan Pulau Pandar. Setelah seharian menikmati wisata di pulau-pulau tersebut, senja itu juga kami berlayar kembali ke Pelabuhan Sape. Melihat mentari yang terbenam di balik pulau dari atas perahu. Meniti lagi jalan pulang.

Pagi di hari berikutnya, kami sudah menginjakan kaki di dermaga Pelabuhan Sape (sama seperti keberangkatan, kami beristirahat lagi di teluk sebuah pulau waktu berlayar pulang, pen). Setelah kembali dengan selamat, kami teringat bocah yang selalu berada di haluan selama laut tak terlalu ganas. Dia sering menjelaskan hal-hal yang tidak kami ketahui, seperti: Selama berlayar kaki jangan di keluarkan dari perahu; Jangan melihat ke belakang. Itu Pemali! Jika dipikir secara logis, itu bisa berarti: Awas nanti ada binatang yang menerjang atau memakan atau gelombang yang menghantam dan kamu jatuh dari perahu; Lihat ke depan! Bisa saja ada ombak besar atau batu karang yang tersembul ke permukaan. Selain itu, pernah juga dia menerangkan tentang permukaan laut yang terlihat tenang, namun perahu seakan terombang-ambing di situ. Pertemuan gelombang- gelombang yang memantul balik dari pulau-pulau sekitar membuat beberapa tempat di perairan itu seakan tenang. Anak itu berkata, “arus dalamnya kuat, walau kelihatannya tenang.”

Dengan pengetahuan yang terus bertambah, keahlian yang selalu diasah, mengerti alam seakan itu sahabat serta pemilihan waktu berlayar yang tepat. Kami rasa jalur Pelabuhan Sape ke Pulau Komodo bisa dikatakan aman (bukan berarti selalu tenang dan tak ada gelombang tinggi, selama tetap aman pelayaran bisa berlanjut, pen). Semoga ke depan ada perbaikan struktur dan infrastruktur di Bima khususnya di Bajo Pulo hingga kita bisa menikmati rentetan panorama indah tanpa terlewat.

Processed with VSCO with  preset
Seorang anak sedang mengamati laut dari haluan kapal
Nb: Kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Desa dan Masyarakat Bajo Pulo. Serta orang-orang yang mendukung secara moril atau materiil yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.

2 thoughts on “Mengapa Bima Terlewat?”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap