Nasionalisme Yang Terbengkalai

Siang itu pak atin, bapak yang biasanya membecak di tamansari bercerita ketika ia berada dimasa revolusi, “dulu, gedung-gedung di Bandung dibakar karena menentang Belanda. Bapak juga ngungsi ke Singaparna (Tasikmalaya.red), bener-bener ga bawa apa-apa” ceritanya mengenai Bandung lautan api. Sejenak aku berfikir “apa sih pak yang Anda perjuangkan dulu? apa para pejuang dulu menyangka akan Indonesia yang korupsinya mendarah daging, kesenjangan sosial yang lebar, globalisasi tidak terfiltrasi, kekacauan politik serta tetek bengek kebobrokan yang terlalu kasar bila diucapkan.

Kita sudah mesti mencintai Negara ini sampai kesumsum tulang, dan semestinya tidak akan tercerabut oleh masa sekalipun. Dari kanak-kanak kita sudah belajar bahasa Indonesia, pendidikan dasar tentang Indonesia dari mulai lagu kebangsaan sampai kaidah-kaidah Pancasila. Hanya belakangan ini Nasionalisme mulai terbengkalai, bukan karena hal-hal dasar tadi sudah tidak tertanam lagi, namun ada satu pertanyaan: Apa fungsi Negara?

Ketika berbicara tentang fungsi negara, apa mungkin kita hanya bicara tentang mengatur? padahal menurut Dr.Anhar Gonggong dalam prakatanya (buku: kebhinekaan masyarakat Indonesia.red) “fungsi negara adalah untuk hidup bersama dan sejahtera bersama”, bukan hanya mengatur masyarakat. Pantas saja orang-orang berlomba menjadi sang pengatur, bukan menjadi sang pemberi kesejahteraan. Bukan tidak baik Pancasila dan semboyan negara kita sampai harus diganti menjadi negara Islam contohnya, tapi dari para pemimpin atau mantan pemimpinpun Pancasila kita telah dilanggar. Masa pemerintahan orde lama, mantan presiden Ir.soekarno membawa negara kita berada dalam jurang kehancuran ekonomi, masa itu juga Ir.soekarno mengaktifkan NASAKOM (nasionalis, agamis, komunis). Dengan adanya komunis yang notabene menganut ideologi atheis (tidak bertuhan), maka dia pun melanggar sila pertama, yaitu: keTuhanan yang Maha Esa.

Lalu pada masa orde baru dengan mantan presiden Soeharto sebagai pemimpin. Pemerintahan yang otoriter terpampang, hampir dipastikan saat itu politik di Indonesia bersifat monopolitik dengan sistem ekonomi terpusat menjadikan para elit politik dimasa itu sangat mudah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Masa orde baru pun dinilai telah melanggar sila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. setelah itu, apa saat ini kita berubah? Nyatanya pemerintahan dulu mewariskan hal yang terlalu mengakar di KKN, disisi lain meninggalkan pula masyarakat yang tiba-tiba memperoleh kebebasan, baik dari segi berpolitik atau berbicara yang mengakibatkan kebingungan, kebimbangan dan mengindahkan hal remeh karena belum terbiasa akan kemandirian setelah bertahun-tahun terbelenggu kediktatoran.

Seperti kata pepatah, “yang lalu biarlah berlalu, kita songsong masa depan yang lebih cerah”. Tanpa menyalahkan atau mendeskreditkan suatu pemerintahan, toh nasionalisme bangsa ini belum teruji. para ahli antropologi berpendapat bahwa bangsa Indonesia masih berada di pasca-nasionalisme dan pasca-modern. tidak usah jauh-jauh membahas masalah negara Islam Indonesia (NII), teroris, pemberontakan dan lain sebagainya. lihat contoh bagaimana acuhnya kita terhadap kebudayaan, seni, pulau-pulau dan berbagai ciri khas bangsa kita, setelah disadur oleh negara lain baru kita sadar dan bertindak, kemana kita sebelumnya?

adapun faktor lain yang membuat nasionalisme kita terpuruk adalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang tinggi, karena kemiskinan membuat masyarakat rela melakukan apa saja untuk uang, entah itu hal baik atau hal buruk. Bagaimana Anda memikirkan nasionalisme, sementara ekonomi Anda terpuruk? menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), data kemiskinan dengan standar Rp.200000/bulan, rakyat Indonesia yang terhitung miskin mencapai 35juta orang atau sekitar 13,3%. Hal yang paradoks ketika kita berada dijalan melihat mobil-mobil mewah sedang berlibur atau belanja.

Faktor kemiskinan ini tidak serta merta menyalahkan si kaya yang telah berusaha dan bekerja keras, namun kemiskinan inipun dipicu oleh ketidak beranian masyarakat untuk menjalankan usaha sendiri. Masyarakat Indonesia saat ini lebih condong untuk bekerja menjadi pegawai negri sipil (PNS) atau bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan, padahal penyerapan tenaga kerja dari situ tidaklah banyak. Hal ini tergambar dari data Dirjen Industri kecil dan menengah yang memperkirakan jumlah wirausaha baru sekitar 0,18% dari penduduk Indonesia, sedangkan penggerak perekonomian semestinya lebih besar lagi dari kancah domestik. semoga dengan kenaikan jumlah pengusaha dapat menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.

Setelah faktor ekonomi, globalisasi serta pasar bebas yang tidak terfiltrasi menjadi kendala. Masuknya trend, lifestyle mengikis identitas sedikit demi sedikit, hal ini bukan tanpa fakta, Saat ini hampir tidak ada masyarakat desa secara kultural apalagi masyarakat kota. Informasi dari televisi, media cetak, internet dan lain-lain sangat mudah didapat dan tanpa filtrasi.

Sebetulnya masalah globalisasi ini tidak terlalu rumit bila kita memiliki penyaring, diri kita sendiri dapat menyaring apa saja informasi dan trend yang baik untuk kita konsumsi dan apa yang tidak baik untuk kita konsumsi. Hanya pada kenyataannya seperti antropolog tadi berkata bahwa Indonesia masih berada dalam koridor pasca-modern, jika penggunaan produk yang sedang trend membawa manfaat apa itu dapat disalahkan? tidak, akan tetapi masyarakat condong mengikuti trend dulu baru memahami arti manfaat, padahal sebuah hal yang manfaat belum tentu sebuah trend. Jadi semestinya bila Indonesia ingin menjadi masyarakat modern, kita mesti tahu arti manfaat dari suatu hal, baik itu yang selama ini berada dimasyarakatnya maupun hal dari luar masyarakatnya. contohnya masyarakat Jepang, masyarakat modern dengan berbagai hal serba canggih tapi tidak melupakan identitas kebudayaannya, karena mereka sadar bahwa itu adalah sebuah nilai.

Masih banyak faktor dari hal kecil sampai hal besar yang bisa mengikis nilai-nilai nasionalisme, karena memang tidak ada sesuatu yang sempurna pasti selalu ada saja yang kurang. kita bisa mulai dari hal kecil seperti tidak menyebut orang dari luar pulau jawa “orang sebrang”, bagaimana bisa orang Indonesia sendiri menyebut mereka orang sebrang?. Hal lain yang bisa dilakukan adalah komunikasi, komunikasi antara warga sipil dengan pemerintah, komunikasi antara si kaya dan si miskin, komunikasi antara atasan dan bawahan  dan lain sebagainya, hal ini dapat membuat segala sesuatu terjalin baik. seperti kata pepatah sunda “hade goreng ge ku basa, da basa teu bisa dibeuli”, yang bermakna segala sesuatu akan terjalin baik kalau kita menjalankan komunikasi secara baik.

Semoga kita dapat mencintai dan membangun bangsa ini lebih baik dan lebih baik lagi, memulainya dari diri kita sendiri. Membentengi diri dari pengaruh luar yang tidak baik, semoga bangsa ini dapat hidup bersama dengan rukun dan sejahtera bersama. Maju terus pantang mundur Indonesiaku!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap