OPINI: Sebuah Filsafah Dari Ilmu

Di suatu pagi yang dingin saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah majalah yang membahas pengetahuan, lingkungan dan manusia. Saat itu seorang kerabat datang padaku dan berkata, “kamu baca apa? Mending belajar lah.” Belajar? Barangkali yang dimaksud belajar ini adalah belajar secara formal yang sudah lama tidak saya lakukan.
Lalu saya merenung dan berpikir arti belajar. Belajar adalah salah satu cara untuk mendapat ilmu pengetahuan, selain hanya salah satu cara hal ini juga bukan terletak pada masalah formal atau tidaknya suatu ilmu pengetahuan karena saya pernah juga mendengar bahwa ilmu pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Kerabatku yang memang berkecimpung dalam dunia pendidikan berkata, “saat ini penilaian masyarakat terhadap kehormatan orang yang berilmu dan berpengetahuan berasal dari pendidikan formal dan gelar yang dicapai.” Apakah benar seperti itu?
Ilmu pengetahuan berasal dari kata ilmu dan pengetahuan, ilmu bersifat spesifik dan pengetahuan itu bersifat umum, begitulah dari penjelasan yang saya simpulkan, tampak meyakinkan atau tidak? Baiklah kita lanjutkan, dalam bahasa Inggris berasal dari kata ‘science’ ilmu dan ‘knowledge’ pengetahuan. Di dalam bahasa arab berasal dari kata ‘alima’ mengetahui, mengerti dan paham. Ilmu pengetahuan juga diatur atau tersistem keluar dan masuk melalui otak yang menjadi sumber akal pikiran, logika, hapalan, penalaran bahkan tubuh kita sekali pun. Bukankah ini semakin membosankan? Padahal saya ingin membuat bacaan yang menarik, memang sulit untuk memperoleh lelucon dalam pembahasan yang serius.
Oke, dewasa ini ilmu pengetahuan sangat berkembang dengan pesat. Ilmu pengetahuan modern dan teknologi seakan tak terbendung, seperti diketahui bahwa karya ilmiah dan hak paten meningkat sejak abad 19 dan abad 20 sekarang ini. Seakan terseret arus, strata social pun berubah menjadi pembeda bagi masyarakat modern yang berilmu pengetahuan tinggi. Strata social? Bukankah ini hampir sama dengan zaman perbudakan dulu? Ada strata social tinggi, strata sosial rendah, dan orang yang diperbudak karena kalah bersaing dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, hanya dengan cara lebih halus.
Dalam buku filsafat ilmu Jujun S Suryasumantri menerangkan, “ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan, namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak massa.” Dan dalam line lain dia menjelaskan tentang teknologi yang dewasa ini menjadi sebuah gengsi manusia, “teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensi sendiri. Sesuatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan arti dari kemanusiawiannya. Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaan dan kebahagiaan.”
Apakah benar ilmu pengetahuan, pendidikan dan teknologi dimaksudkan untuk gelar, jabatan, kebanggan, gengsi dan kehormatan? Bukankah menjadi sempit ‘tolabul ilmi faridhotan’ menuntut ilmu itu wajib? Karena jika benar bahwa tujuan mencari ilmu pengetahuan dan pendidikan seperti itu menurutku tujuan-tujuan manusia itu benar-benar menjadi sempit dan payah. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dalam novelnya, “dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan…sekarang tidak. Ilmu-pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk social dan individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu-pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu-pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi.”
Manusia yang lebih berbudi seperti apa? Menurut pandanganku manusia ini adalah individu-individu yang berusaha dengan ilmunya tapi dengan moralitas dan etika yang benar sebagai manusia (manusiawi). Dan bagaimana cara mendapat moralitas baik dan kemanusiawian terjaga? Barangkali ini memang tergantung pribadi masing-masing sebagai manusia, namun salah satu pilar moralitas ada di agama, apa hubungan agama dengan ilmu? Pertanyaan inilah yang sering sekali manusia modern lontarkan karena menurutnya logika menentang agama, padahal entah logika yang memang tak menjangkau agama.
Seperti kita tahu dalam keterangan bahwa Tuhan meninggikan derajar orang-orang yang berilmu, tapi tetap ketika berada dalam masjid orang berpendidikan S2 atau bergelar professor tidak serta-merta berada di baris paling depan ketika dia datang terlambat atau orang yang hanya lulusan SMP harus berada di baris paling belakang mempersilahkan orang bergelar lebih tinggi duduk di depannya ketika shalat jum’at. Pembahasan ini lebih menarik ya? Intinya, walau orang itu berilmu dia tetap berada dalam satu aturan dan tetap disadarkan bahwa dia dan lainnya sama; manusia.
Maaf bila penjelasanku tentang agama berada di koridor Islam karena saya tidak tahu tentang agama lain dan saya takut disangka rasis karena membicarakan agama lain. Dan seperti Albert Einstein katakan, “science without Religion is lame, Religion without science is blind,” ilmu tanpa agama adalah lumpuh, Agama tanpa ilmu adalah buta. Selain itu juga mengajarkan manusia untuk mawas diri, agama membawa kemanusiawian karena ada Sang Maha Sempurna di balik semua penciptaan dan ilmu melebihi sang manusia.
Lalu apakah ilmu hanya sebuah pendidikan formal? Tanpa meremehkan orang-orang berpendidikan tinggi yang berasal dari didikan formal karena pendidikan formal pun baik, menurutku ilmu pengetahuan tidak hanya dari sana. Saya yakin banyak dari anda yang setuju, jika tidak pasti dari tadi anda menganggap bahwa penjelasan saya tidak penting dan cepat-cepat mencari bacaan lain. Jadi mengapa kita membatasi ilmu pengetahuan? Padahal alam ini tidak terbatas, memang BBM ada batasnya tapi energi tersedia tiada batas, memang waktu kita terbatas namun kehidupan ada tanpa batas, memang kemampuan kita terbatas tapi ilmu melingkupi tidak berbatas.
Oleh karena itu sudah pasti manusia akan menuntut ilmu terus dari berbagai hal hingga akhir hayat dan liang lahatnya. Lihat lagi, lihatlah lagi maka pandangan mata kita akan lelah sedangkan kita masih tak tahu apa-apa. Dan itu merupakan kunci ilmu karena kita tak tahu apa-apa hingga kita terus bertanya dan terus mencari, “sesungguhnya para malaikat benar-benar telah meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu pengetahuan, sebab Dia ridho dengan apa yang dia kerjakan,” Hadist riwayat Abu Dawud daan Tairmidzi. Semoga ilmu kita bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap