Soal-pencurian-konten-dan-mental-pegiat-medsos-Indonesia.docx

Soal pencurian konten dan mental pegiat medsos Indonesia

Mungkin kali ini kita berada dalam masa puncak penggunaan media sosial, karena dengan jumlah ratusan juta pengguna aktif di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, Twitter, dan lain-lain.

Meskipun diawali sebagai sarana komunikasi namun platform mulai memunculkan tren baru, bahkan seleb baru.

Media sosial saat ini dilihat sebagai suatu sarana untuk menciptakan uang.

Khususnya buat mereka yang disebut sebagai seleb media sosial yang punya pengikut ribuan bahkan jutaan. Sebenarnya masalah ini sudah dimulai dari dulu, dari ketika blog masih terhitung sebagai platform baru.

Pencurian konten sudah dimulai dari zaman kejayaan Blog

Mirip seperti blog ketika adsense diciptakan oleh Google. Setelah mendengar tentang kabar bahwa kita bisa menghasilkan jumlah uang cukup besar dari Blog, orang berbondong-berbondong menulis di blog demi uang yang bisa dihasilkan.

Namun ternyata ada banyak efek samping yang diciptakan, seperti praktik black hat SEO dan pencurian artikel dari blog ternama.

Tidak ada yang salah dari mencari uang dengan blog atau media sosial. Namun ketika mengambil karya orang tanpa izin dan tidak menyertakan sumber, maka hal itu tentu bisa dianggap menjadi pencurian.

Saya paham kalau blog, media sosial, atau platform digital lainnya seperti sebuah alat yang diberikan kepada kita untuk bebas berkarya atau nyampah sekalian.

Kita bisa posting apa pun hal yang kita mau, tulisan seperti apa pun, dan visual seperti apa pun.

Baca juga: 10 alasan untuk membaca buku fiksi

Namun untuk memiliki jumblah subscriber, follower, dan interaksi yang besar, para pemilik blog dan akun media sosial ini harus memiliki konten berkualitas yang banyak.

Apa konten berkualitas itu?

Konten berkualitas adalah sebuah konten yang berupa video, tulisan, foto, atau grafis yang bermanfaat bagi pengikutnya.

Tidak perlu tentang ilmu melulu, bisa juga untuk kesenangan dan bahan tertawaan seperti yang banyak di Instagram, twitter, dan Youtube.

Mencari uang di platform digital menjadi dorongan pencurian konten

Ini hanya dugaan saya aja sih sebenarnya, tapi mungkin ini pemicu yang menyebabkan pencurian konten banyak banget di Indonesia.

Bukan pencipta konten luar Indonesia aja yang kena sikat, dalam negeri juga banyak. Makanya kenapa kasus chaneel Youtube Calon Sarjana bisa rame banget dibahas.

baca juga: ketika buku togel merajai pencarian buku

Kembali lagi ke logika ‘semakin besar jumlah pengikut, maka semakin besar jumlah penghasilan’, ini yang mendorong para pencipta konten untuk kejar setoran bikin konten banyak.

Namun kondisi dan pemikiran jumlah views mendorong para pencipta konten untuk melakukan segala cara demi mendapatkan jumlah viewers yang ribuan.

Pencurian konten itu salah satu akibatnya saja, di sisi lain mulai banyak konten kontroversial yang kualitasnya makin anjlok demi mendulang views atau interaksi yang tinggi.

Jumlah views di Youtube, interaksi posting di Instagram, memang  menjadi faktor untuk menaikkan harga iklan dari sponsor. Tapi di sisi lain pengikut hanya diukur dengan jumlah uang yang bisa mereka datangkan.

Lalu bagaimana agar bisa menjadi creator yang lebih baik?

Ada konsep menarik tentang 1.000 True Fans, beberapa nama besar di dunia marketing seperti Seth Godin, Chris Do dari The Futur. Konsep ini disebutkan pertama kali oleh Kevin Kelly yang menyebut kita hanya memerlukan 1.000 True Fans untuk bisa bertahan.

Maksudnya kita hanya mengandalkan pemasukan dari adsense saja, namun dari membuat sesuatu juga. Bisa berupa kaos, buku, dan produk lainnya.

Dan seribu fans sejati ini akan terus membeli apa yang kita buat. Mereka adalah orang-orang yang kita pilih untuk mengabdikan diri. Jadi semua konten dan produk dibuat untuk mereka.

baca juga: 9 buku fiksi fantasi yang wajib kamu baca

Sebagai contoh ada Taylor Swift yang akan menggelar konser di Singapura, kemudian jika kamu orang Indonesia membela mati-matian untuk datang ke konser itu menggunakan uang tabunganmu yang tidak seberapa, maka kamu adalah seorang True Fans.

Lalu apakah semuanya berhenti di 1000 True Fans?

Tentu tidak, membuat konten artinya juga menyebarkan gagasan atau ide kepada fans atau follower.

Kamu memang bisa mendapatkan follower banyak secara singkat ketika menjual aurat sebagai bahan kontemu, tapi apakah warganet pengikutmu akan jadi true fans?

Kemungkinan besar sih tidak, dan sponsor dari brands besar biasanya cenderung menjauhimu.

Membuat konten yang berkualitas berarti membuat konten untuk sekelompok orang saja, tidak semua konten akan cocok untuk semua orang, karena pada saat tertentu tidak tiap orang akan menyukai kontenmu.

Pilihlah sekelompok orang yang kamu akan abdikan diri untuk mereka, karena inilah caranya untuk membuat seorang menjadi True Fans.

Akhir kata, jangan pernah takut untuk gagal karena dari kegagalan kita bisa belajar lebih banyak.

Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap