Sukses menulis dengan mulai membangun pembaca dari smallest viable audience

Sukses jadi penulis dengan mulai dari smallest viable audience

Sebagai seorang penulis cerita yang baru akan menelurkan karyanya hal paling sulit adalah untuk mendapatkan pembaca setia. Ini juga yang dihadapi para penerbit baru atau untuk kamu yang umumnya bergerak dalam bidang pembuatan konten. Kamu harus memulai membangun pembaca dari smallest viable audience.

Saya jelaskan dulu apa itu Smallest Viable Audince.

Smallest Viable Audience bisa didefinsikan untuk pemirsa atau pembaca yang relatif kecil namun cukup untuk bertahan hidup.

Kenapa harus mulai dari pemirsa atau kelompok paling kecil dulu?

Jawabannya adalah yang kita cari di sini bukan pembaca atau pasar yang paling kecil, namun yang akan kita gapai adalah mereka yang akan menjadi fans kita, kita berusaha membuat grup paling kecil itu menjadi true fans dari karya-karyamu, kawan.

Seorang true fans akan mempromosikan apa saja yang kita buat untuk mereka. Tentunya kualitas karya kita harus memuaskan mereka.

Artikel ini memang mirip dengan artikel sebelumnya yang membahas 1000 true fans, namun di sini kita akan lebih menjelaskan tentang bagaimana ide atau sebuah cerita menyebar.

Jadi bagaimana sebuah cerita menyebar?

Sebuah konten atau cerita tidak menyebar begitu saja, ada yang memang organisasi atau individu yang mampu melakukan promosi dengan budget besar.

Namun untuk kebanyakan orang, khususnya penulis yang tidak memiliki jaringan yang luas atau modal besar, kamu hanya punya karya.

Karya atau cerita yang menyebar bisa terjadi  dengan sendrinya. Sudah banyak contohnya.

Seperti misalnya J.K. Rowling yang ditolak berulang kali oleh para penerbit, namun ketika naskah cerita Harry Potter bisa diterbitkan, para pembaca yang menjadikan J.K. Rowling sebagai favorit adalah mereka juga yang merekomendasikan cerita agar dibaca orang lain.

Memang semua orang tidak akan jadi seperti J.K. Rowling, tidak akan jadi langsung terkenal, tidak akan langsung disukai oleh pembacanya.

Namun buat kamu yang memang ingin total dalam menulis, kamu bisa belajar dari terus menerus menulis.

Buat terus karya ceritamu, tidak laku, tidak disukai, dibaca sedikit orang adalah wajar ketika kamu baru saja menulis.

Bagaimana kalau sudah lama menulis tapi tetap saja yang membaca sedikit?

Mungkin itu terjadi karena kamu egois, menganggap karyamu sudah baik, sudah bagus, hingga kamu tidak berusaha lebih baik dalam menulisnya lagi.

Kegagalan itu hal yang biasa terjadi, masalahnya apa yang kamu ambil dari kegagalanmu itu?

Terus menerus berkarya, bagi dirimu dan orang-orang yang telah menjadi pembacamu.

Proses penyebaran cerita dan karya

Dalam smallest viable audience hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kamu tidak membuat cerita yang ‘rata-rata’ untuk ‘rata-rata’ orang.

Kamu membuat sesuatu yang khusus.

Contohnya kamu membuat sebuah cerita horor, cerita seram, dengan tema kegilaan.

Kamu membuat cerita horor dengan genre horor kosmik.

Di satu sisi memang sedikit pembacanya saja di Indonesia, namun ketika mereka puas membaca ceritamu, mereka akan menyebarkannya.

Untuk itu dalam berkarya berbeda tidak jadi masalah.

Malah yang berbahaya itu ketika kamu membuat cerita yang biasa saja, dibuat untuk kebanyakan orang.

Mengikuti tren juga bisa jadi berbahaya untukmu dalam jangka panjang, karena kamu jadi tidak punya nilai identitas, tidak bisa dibedakan dengan pengarang yang lain.

Untuk itulah jadi penting untuk membuat cerita yang kamu suka dan membedakanmu dari yang lain.

Tapi kalau tidak mengikuti tren akan lama dong membangun pembacanya?

Memang biasanya akan butuh waktu lebih lama jika tidak mengikuti tren, kamu mungkin perlu waktu dua tahun terus berkarya membuat cerita hingga mendapatkan pemabcamu.

Dalam jangka waktu yang lumyan lama itu kamu bisa membangun pembcamu sedikit demi sedikit.

Kuncinya adalah dengan mengeluarkan cerita yang konsisten.

Baiknya seminggu sekali, tapi kalau tidak bisa kamu unggah dua atau tiga minggu sekali misalnya.

Kalau kamu adalah pengarang sudah mendapatkan kontrak untuk buku, kamu bisa menulis setahun sekali. Secara konsisten selama beberapa tahun.

Setiap karya yang kamu buat harus dibuat dengan baik, yang bisa membuat pembacamu menikmati hal tersebut.

Memang hal ini akan sulit dilakukan dalam jangka waktu yang konsisten.

Namun dengan berusaha agar selalu konsisten kamu akan menemukan hal baru, anggap saja ini latihan untuk terus menerus mengeluarkan karyamu.

Ada banyak manfaat dengan jadi konsisten.

Nih buat yang suka ngulik, konsisten itu bagus banget sebagai bentuk penempaan diri.

Buat kamu yang berusaha upload 100 video untuk Youtube untuk seminggu sekali atau bikin 500 konten untuk Instagram dengan tengat dua kali sehari, pasti kamu akan menemukan banyak hal baru.

Dari mulai wawasan, sampai dengan pandangan yang lain.

Intinya ketika kamu memaksakan diri untuk konsisten, akan menempa dirimu jadi untuk jadi lebih baik.

Begitu juga dengan penulisan buku atau karya lainnya.

Dengan jadi konsisten kamu akan jadi seorang pribadi baru karena telah menempuh konsistensi itu.

Jangan terpaut dengan angka, terus saja berkarya!

Hal yang paling menohok dalam era digital saat ini adalah angka, entah itu views, subscriber, follower, likes, interaksi, reaction, dan lain sebagainya, menjadikan dirimu membuat hal itu sebagai patokan.

Saya berani bilang, lihat saja froteast saat ini yang belum punya banyak pembaca, namun lihat satu tahun atau dua tahun lagi, saya yakin akan berkembang, karena saya berusaha sekuat mungkin untuk menyuguhkan artikel terbaru untukmu, kawan pembaca.

Sesungguhnya tanpa melihat semua itu dan fokus untuk terus menyuguhkan karya terbaik adalah netuk pelatihan diri.

Tidak semua orang berbakat dan beruntung

Terkadang kamu perlu menempuh sebuah proses transformasi untuk menjadikan dirimu lebih baik, secara terus menerus dalam membuat karyamu.

Karyamu akan disuguhkan untuk orang-orang yang menyukaimu atau setidaknya itulah yang kamu coba buat.

Smallest viable audience adalah pilihan paling mungkin untuk kebanyakan orang yang memilih untuk hidup dengan berkarya.

Kali ini memang saya tidak membawa bukti apa pun untukmu, selain berbagai komentar para pakar terdahulu yang sudah menjalani strategi berkarya untuk smallest viable audience ini.

Saya harap tulisan menjadi sebuah insight yang baru untukmu dan membantumu dalam menemukan totalitas dalam berkarya.

2 thoughts on “Sukses jadi penulis dengan mulai dari smallest viable audience”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap