Tren self-publish bergeser ke format ebook!?

 

Menerbitkan buku sendiri saat ini!? Kenapa tidak? Mungkin begitu peikiran para penulis indie kita.  Banyaknya perusahaan yang menawarkan jasa print by demand, jasa pembuatan ISBN (maksudnya si penulis beli ISBN sama mereka), pembuatan cover, edit aksara dan sebagainya. Sepertinya mennulis buku dan menerbitkan sendiri itu mudah yah.

Beberapa perusahaan yang menawarkan jasa ini adalah nulisbuku.com, dapurbuku.com. bahkan penerbitan besar sendiri pun turut ikut meramaikan bisnis self-publish ini. Seperti Gramediana (anak perusahaan gramedia yang menawarkan Self Publish dalam bentuk ebook dan cetak) dan Mizan self-publish yang masih menawarkan dalam bentuk cetakan. Diluar mereka ini tentu saja banyak perusahaan yang menawarkan jasa serupa.

Maka impian pertama para penulis itu, dengan mudahnya bisa digapai sekarang. Terbit dalam bentuk cetak, tentu saja! Tapi bagaimana menjadi best seller? Tentu saja itu urusan lain. Bisa mencetak buku kita sendiri memang suatu kebanggaan tersendiri. tapi untuk bisa mencapai predikat buku best seller, terkadang cerita yang bagus, penulisan baik dan cover yang menarik seringnya tidak cukup. Butuh kampanye awareness dan marketing yang baik. Bagaimana dengan buku indie!? Apakah mungkin menjadi best seller?

Menurut opini pribadi saya tidak! Buku Indie belum bisa menjadi best seller di Indonesia. Kenapa? Bukannya saat ini self -publish itu gampang, tinggal mencari pembaca saja kan!? Sayangnya tidak sesedarhana itu. faktor paling menentukan dalam penjualan buku adalah harga yang bersaing.  Sebagai contoh anda adalah seorang penulis cerita fantasi remaja. Maka calon pembaca anda juga termasuk mereka, para pembaca Novel Harry Potter. Sedangkan jika dibandingkan antara anda sebagai penulis, dengan J.K.Rowling. ibarat bumi dan langit. Anda kurang dikenal para pembaca Indonesia, yang artinya fanbase pembaca anda masih kecil.

Masalah yang lain dengan buku-buku self-publish adalah harganya yang tinggi. Dengan sistem print-on-demand (dicetak sesuai pesanan) memang memungkinkan anda bisa mencetak 1-30 buku saja, tapi akibatnya harga jualnya yang menjadi terlampau tinggi. Untuk kisaran buku dibawah 250 halaman harganya bisa mencapai 50-60rb (harga terkadang tergantung dengan siapa kita bekerja sama). Sedangkan mereka yang ada di penerbitan tradisional bisa menjual dengan 25.000-45.000 rupiah. Semakin kecil kemungkinannya anda untuk menjual buku anda.

Masalah lain lagi dengan self-publish adalah dipandang sebelah mata oleh para pembaca. Alasannya mungkin karena tidak standar dalam menerbitkan sendiri. Standar penulisan cerita memang tergantung dari penulisnya masing-masing. Juga terkadang karena lama waktunya, karena penulisnya menggunakan sistem pre-order (Jadi tidak cetak satuan, jumlah minimum buku yang dicetak tergantung penulis/perusahaan. Red.). belum lagi dengan harga yang teramat mahal. Semakin menjauhkan para calon pembaca anda.

Tapi jangan kecil hati para penulis indie. Format ebook seiring hari semakin populer. Dengan adanya format ebook berarti anda tidak perlu mencetak buku anda. Dan tentunya anda bisa menjual dengan harga yang jauh lebih murah. Anda mungkin bertanya-tanya apakah menjanjikan menjual buku anda dalam format ebook? kalau saran saya, coba lihat ke belakang sekarang. Apakah dengan self-publish kemarin anda mendapatkan pendapatan yang lumayan?

Kemudian untuk masalah platform atau saya lebih suka menyebutnya toko buku digital. Bagaimana dengan platform eReader (toko buku digital) yang menjual ebook berbahasa Indonesia? Paling populer saat ini adalah SCOOP dan wayangforce. Selain dua raksasa toko buku digital Indonesia itu memang ada beberapa kompetitor lainnya seperti QBaca, Gramediana dan kabarnya Detik pun akan mengeluarkan versi toko buku digital mereka sendiri.

Tren membaca dalam format ebook walaupun lambat tapi pasti naiknya. Seiring dengan semakin sempitnya waktu luang yang dimiliki oleh para warga kota besar di Indonesia. Memang masih jarang pembaca ebook di daerah itu. tapi kalau menurut saya para pembaca daerah pun segan merogoh koceknya dalam-dalam untuk buku self-publish.

Nah walaupun kesempatan buat self-publish itu semakin hari semakin terbuka dan semakin mudah, jangan lupa untuk tetap menerapkan standar penulisan yang tinggi untuk anda sendiri. Karena jika sebuah buku dijual dengan harga sangat murah pun belum tentu akan disukai jika ia tidak menghibur atau menambah wawasan pembacanya.

Selamat mencoba dan slamat berjuang.

 

Oleh Zaki

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Tren self-publish bergeser ke format ebook!?”

  1. Klo saya sendiri walau punya versi eBook dari beberapa novel laris namun belum satupun yang dibaca. Saya lebih nyaman membacanya dalam bentuk buku karena tidak membuat mata lelah secepat memantengi layar monitor 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap